Nama :
MULYADI
Nim :
1111015000060
Kelas :
Pendidikan IPS 4 C (geografi)
Tugas : Resensi Buku Mata Kuliah Sejarah
Judul Buku : DOKTRIN AGAMA “SYEKH
´ABD-KARÎM AL-BANTANΔ
DALAM PEMBERONTAKAN PETANI
BANTEN 1888
Author/Penulis : Hendri F.Isnaeni
Publisher :
Kreasi Cendekia Pustaka, Tebet-jakarta
Harga Jual :
Rp. 37.500,-
ISBN/BAN :
978-602-19987-3-1
Bulan/Tahun Terbit :
September 2012
Code Buku :
349004235
Group/Kategori :
Non-Fiction
Sub Group :
Sejarah Agama
Panjang x Lebar Buku : 15 x 23 cm
Jumlah Halaman :
x+118 hal
Nama Editor :
Dimas Saputera
Berat Buku :
170 gr
A. Pendahuluan
Sekitar 124
tahun yang lalu pecah pembrontakan rakyat Banten melawan Belanda dan antek-anteknya,
pembrontaka yang relatif singkat dari tanggal 09-30 Juli 1888 didistrik Anyer
ini, oleh sejarawan Sartono kartodirjo di sebut sebagai pemberontakan petani
Banten, pemberontakan ini hanya merupakan satu dari serentetan pemberontakan
yang terjadi di Banten selama abad Ke-19.
Pemberontakan-pemberontakan
tersebut, terutama di Banten, terjadi karena pergolakan sosial yang
mendapatkan legitimasi keagamaan,
masyarakat yang jengah karena kegiatan kolonial bangkit oleh kepemimpinan
seorang tokoh agama yang membawa pesan mesianisme.
Kebangkitan
agama mewujud dalam bentuk sekolah atau perkumpulan-perkumpulan mistik
(Tarekat). Organisasi terkaitinilah yang menjadi wadah konsolidasi dan yang
terpenting adalah penanaman doktrin-doktrin keagamaan untuk mengesahkan
pemberontakan, tokoh sentral yang mendoktrin para pemberontak dalam
pemberontakan petani banten adalah Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî.
Salah satu
keistimewaan islam adalah bahwa tasawuf, yaitu usaha batin yang kelihatan
terbatas pada kalangan elite, justru mampu melahirkan gerakan-gerakan masa
seperti tarekat. Tarekat yang secara harfiah berarti “Jalan”, mengacu pada dua
makna, yakni sebagai pengaduan dari doktrin, metode dan ritual; dan sebagai
organisasi yang menyatukan para pengikut “jalan” tersebut. Seorang pembimbing
spiritual (Mursyid) akan menuntun anggotanya kejalan kesucian, dan oleh
karenanya terjadi pengeramatan terhadap mursyid tersebut, sampai menjadi
kegiatan utama tarekat tersebut.
Sebagai
organisasi, tarekat tidak hanya berperan menuntun para pengikutnya melakukan
ritual-ritual tarekat menuju Tuhan; tetapi juga menjadi kekuatan masa yang
mampu membawa perubahan radikal denga cara pemberontakan. Di Nusantara,
beberapa tarekat telah turut ambil bagian dalam politik dan ada kalanya
cenderung menjadi militan.
Hal ini karena
tarekat merupakan alat yang efektif untuk mobilisasi massa, mengorganisasikan
gerakan keagamaan, dan menyelenggarakan indoktrinasi tentang cita-cita
keagamaan. Dengan kata lain, tarekat bukan hanya pusat kebangkitan agama,
melainkan juga sebagai tempat protes politik, kekuatan-kekuatan perlawanan yang
terkandung secara inhern dalam tarekat menyebabkan gerakan protes menuju jalan
yang ekstrem.
Kolonialisme
Belanda yang dimulai sejak abad ke 16 mencapai puncaknya pada abad 1830,
terutama di Jawa. Untuk pertama kalinya Belanda berhasil mengekspolitasi dan
menguasai seluruh pulau ini. Tidak ada sama sekali tantangan serius terhadap
kekuasaan mereka, selain beberapa tindakan revolusioner yang bersifat endemis,
radikal, dan abortif. Namun itu pun dengan mudah dipatahkan, karena kekuatan
pribumi dalam merencanakan perlawana belum matang.
Periode
pergolakan sosial pada abad Ke-19 mengiringi perubahan sosial yag diakibatkan
oleh kolonialisme yang semakin kuat meruntuhkan tradisi lokal. Tekanan
modernisme, disertai gerakan ekonomi dan politik kapitalis, mengakibatkan
kemerosotan mental rakyat jajahan baik dalam sektor ekonomi, sosial, politik,
agama . budaya, dan lain-lain.
Hal ini
terjadi di banten, selama abad ke 19, serentetan pembrontakan terhadap
pemerintahan kolonialisme meletus, bahkan saking sering rakyat banten
memberontak, baik dalam skala kecil dan sekala besar, membuat Banten disebut
sebagai tempat persemaiaan dan gelanggan ng pemberontakan, dan salah satu
pemberontakan paling besar adalah pemberontakan petani Banten pada 9 Juli 1888.
Di tinjau dari segi gerakan sosial, faktor-faktor yang menyebabkan
pergolakan dan keresahan sosial sangat kompleks dan beranekaragam. Peristiwa
revolusioner itu bisa diletakkan di dalam konteks perkembangan kelembagaan
ekonomi, sosial, politik, dan agama. Aspek politik merupakan faktor yang
menonjol dalam semua gerakan sosial di Banten, termasuk Pemberontakan Petani
Banten 1888. Kebencian rakyat terhadap pamong praja Banten hampir sama
mendalamnya dengan permusuhan terhadap penguasa-penguasa asing, yaitu Belanda.
Sebab, para pamong praja menjadi agen-agen kolonial sebagai pemungut pajak
rakyat Banten. Kegusaran penduduk terhadap pajak berubah menjadi pemberontakan
ketika mereka harus menjual hasil pertaniannya dengan harga yang rendah.
Ditambah lagi wabah penyakit dan bencana alam menjadi lengkaplah penderitaan
rakyat, yang mendorong mereka ingin mengakhiri penderitaan dengan memberontak.
Namun, pemberontakan tidak akan pernah meletus, tanpa seorang pemimpin.
Para pemimpin pemberontak datang dari kalangan elite agama atau kiai dan kaum
aristokrat lama, yang merasa kedudukan istimewanya terancam oleh pemerintah
kolonial Belanda. Tersisihnya mereka dari ranah politik rupanya telah
menyebabkan mereka mudah terpengaruh untuk melakukan dan menggerakkan
pemberontakan, sebagai cara untuk menyalurkan ketidakpuasan dan rasa dendam
mereka. Sikap memberontak ini juga diperkuat lagi oleh kebencian religius
mereka terhadap kekuasaan “orang-orang kafir.” Tidak disangsikan lagi bahwa
hampir semua pemberontakan diwarnai oleh faktor keagamaan.
Tokoh penting dalam pemberontakan petani Banten adalah Syekh ‘Abd al-Karim
al-Bantani, seorang khalifah tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah. Dia yang lama
tinggal dan belajar di Mekah, kembali ke Banten. Dalam waktu tiga tahun di
kampung halamannya dia menanamkan doktrin-doktrin agama yang mendorong pecahnya
pemberontakan, antara lain kedatangan Imam Mahdi, peringatan terakhir Nabi
Muhammad Saw., mendirikan negara Islam (Dar al-Islam), dan Perang Sabil (Jihad
fi Sabilillah).
Namun jauh
sebelum itu, pemberontakan yang melibatkan tarekat, terjadi ketika Syekh Yusuf
al-Makasasari membantu sultan Ageng tirtayasa melawan VOC (Vereenigde
Oostindische Compagnie atau Perserikata Perusahaan Hindia Timur) yang membantu
Sultan Haji, anak sultan Ageng Tirtayasa. Syekh Yusuf mempelajari dan
bergabungdengan tarekat Qadiriyah di Aceh, Naqsyabandiyyah di Yaman, tarekat
Sattariyyah dan Khalwatiyyah di Mekah dan Madinah, kembali ke Nusantara 1672
dengan Gelar al-Taj al-Khalwati memilih hidup di banten dan memperkenalkan
tarekatnya sendiri: Khalwatiyyah-Yusuf. Selain itu ia juga mengajarkan tarekat
Sattariyyah, Naqsyabandiyyah, Qadiriyyah, dan Ba’alwiyyah. Dan menjadi
penasehat Sultan Ageng Tirtayasa.
Begitu pula
dengan pemberontakan Petani Banten 1888, kerangka organisasinya digerakan oleh
tarekat Qadirriyah Naqsyabandiyyah. Tokoh utama yang membuka dan meratakan
jalan bagi pemberontakan adalah mursyid tarekat
Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah yang lama
tinggal dan belajar di Mekkah: Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî.
Meskipun Syekh
´Abd-Karîm al-Bantanî tidak ikut dalam pemberontakan karena dipanggil kembali
ke Mekkah oleh gurunya Ahmad Khatîb al-Sambasî, namun ia telah menanamkan
doktrin-doktrin yang menjadi bekal bagi para pemberontak. Dalam hal ini
–meminjam istilah John L. Esposito dalam menjuluki pemikir Iran Alî syari’atî
dalam revolusi Islam di Iran- kita bisa menyebut Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî sebagai
“ perumus dan penyedia ideologi revolusi’, dengan kata lain. Syekh ´Abd-Karîm
al-Bantanî-lah yang telah mempersiapkan doktrin-doktrin Agama atau landasan
Spiritual bagi rakyat banten untuk melakukan Pemberontakan.
Setelah Syekh
´Abd-Karîm al-Bantanî tiba di banten pada tahun 1872, tarekat
Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah memperoleh
momentumya. Di bawah pengaruhnya, tarekat ini semakin berakar di kalangan para kiyai dan mempersatukan mereka, dimana
sebelmnya mereka menyelenggarakan pesantren sendiri-sendiri, bahkan saling
bersaing untuk meraih nama sebagai ulama yang pandai, “Dukun” yang ampuh, atau
mistikus yang ulung, dengan berlindung di balik Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî
pengaruh para kiyai dimata para pengikutnya semakin bertambah, dengan memasuki
tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah, maka kesetiaan para santri kepada kiai dan
persaudaraan dikalangan santri menjadi lebih kokoh , selain itu ilmu kiai
memperkuat kharismanya dimata saantri-santrinya.
Syekh
´Abd-Karîm al-Bantanî berkeliling ke pelosok-pelosok daerah di Banten dan dari
Masjid sampai Mushola untuk menyampaikan khotbah yang isinya sangat keras dalam
soal-soal keagamaan dan bernada Puritan. Selain mengingatkan agar menaati
ketentuan-ketentuan dalam al-Quran, dengan menekankan pada salat, zakat, puasa,
dan berzikir sebagai esensi dari tarekat; Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî juga
menanamkan doktrin-doktrin eskatologis seperti tentang kedatangan Imam Mahdi,
peringatan terakhir nabi Muhammad SAW. Perintah mendirikan negara islam (dâr
al-islâm) dan perang sabil (jîhâd fî sabilillâh).
B. Riwayat dan Hikayat Syekh Agung ´Abd-Karîm Al-Bantanî
Sebagaimana
biasa terjadi pada setiap kemunculan gerakan politik atau keagamaan, seorang
tokoh-seorang pemimpin yang kharismatik, atau seorang demagog, atau keduaduanya
diidentikan dengan gerakan itu sendiri. Begitu pula halnya yang terjadi dalam
pemberontakan petani banten 1888, dengan kemunculan seorang sufi bernama Syekh
´Abd-Karîm al-Bantanî.
Syekh
´Abd-Karîm al-Bantanî lahir di Lampuyang, Tanara, Serang, Banten pada 1840 dia
adalah putra Ki Mas Tanda, keturunan bangsawan Banten Melalui Jalur pangeran
Sunyararas, putra Maulana Hasanuddin, Sultan Banten pertama (memeritah
1552-1570) dengan Ratu Ayu Kirana, puteri Sultan Trenggono. Silsilah lengkapnya
adalah Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî ibn Mas Tanda ibn Ki Mas Ruyani ibn Ki Mas
Ahmad Matin ibn Ki Mas Ali ibn Ki Mas Bugel ibn Ki Mas Jamad ibn Ki Mas Janta
Ki Mas Kun ibn Pangeran Sunyararas ibn Sultan Maulana Hasanuddin.
Sejak masih
muda beliau sudah pergi menuntut ilmu ke Mekah, dimasa remajanya ia sudah fasih
berbahasa Arab dan membaca tulisan-tulisan Arab, dia juga memiliki pengetahuan
cendekia tentaang teologi islam.
Sebagai anak muda, Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî
mendapat kehormatan untuk diminta oleh dan mengabdi kepada syekh Ahmad Khatîb
al-Sambasî, yang sedang di puncak prestasinya, sebagai murid dan melayani di
rumahnya, tentusaja ini dimanfaat kan oleh Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî dengan
baik untuk berguru kepadanya, yang diakui memiliki ilmu tinggi dan mencapia
derjat tertinggi dalam tarekat Qadiryyah.
Beberapa dia
antara orang-orang dari nusantara tinggal dirumah syekh Ahmad Khatîb
al-Sambasî, dia mengajarkan seni pengajian Al-Quran secara perorangan kepdada
banyak orang Jawa.
Melalui
tarekat dan rabbath-nya, syekh ahmad telah memberikan dukunganya yang
besar dalam mengembangkan dan menata mata rantai masyarakat islam, khususnya
melayu atau nusantara, sehingga dia dapat menarik pengikut setia banyak sekali
dari wilayah ini, ia pun menurut Snouck Horgronje, merupakan ulama terkenal
yang menguasai berbagai macam cabang ilmu penhetahuan islam, bahkan dianggap
melebihi teman-temanya dari Hindia-Belanda karena kedudukanya sebagai pemimpin
tarekat Qadiriyyah di Mekah.
Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî menunjukan hasrat
yang mendalam untuk menimba ilmu dan menaruh perhatian yang besar terhadap
ajaran-ajaran Islam syekh Ahmad Khatîb al-Sambasî. meski Syekh ´Abd-Karîm
al-Bantanî tidak terlalu mendalami ilmu pengetahuan namun ia sangat menguasai
ilmu tarekat. serta mendalami tasawuf serta mengikuti tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah kepada Syekh Ahmad Khatib Sambas, yang didalamnya diadakan
pembacaan zikir dan diakhiri dengan pembacaan puisi penghargaan terhadap Nabi
Muhammaad SAW. sampai akhirnya mendapat ijazah untuk menjadi khalifah Syekh
Ahmad Khatib. Tugas pertama yang
diembannya adalah melayani guru tarekat di Singapura selama beberapa tahun.
Pada 1872
beliau kembali ke kampung halamannya, desa Lempuyang dan menetap di sana sekitar
tiga tahun lamanya. Sebagai mana yang disarankan oleh gurunya di Mekah, dia
mengankat dirinya sebagai Mursyid dan imam sebuah peran yang membuat dirinya sangat di cintai masyarakat dan orang jawa.
Syekh
´Abd-Karîm al-Bantanî mendirikan sebuah pesantren dan dalam waktu singkat dia memiliki
murid-murid yang setia, mengabdi dan patuh kepadanya. Sulit untuk memperkirakan
jumlah pengikutnya. Dan dengan cepat tampil sebagai tokoh yang dominan di
kalangan elite agama.
Dan dengan
kekayaan yang dimilikinya, memungkinkan dia mengunjungngi daerah-daerah di
Bantensambil tak henti-hentinya mengajakan tarekatnya. Disamping mengajarkan
pada masyarakat banyak ia juga mengajarkan pada sejumlah tokoh terkemuka,
termasuk kapada penghulu Serang dan pensiunan patih, R.A Prawiranegara adalah
sahabat-sahabatnya. Mereka sangat terkesan oleh ide idenya, kenyatan ini
membuat prestise nya membumbung tinngi.
C. Sebagai Sumber Kharisma
Berkat
kedudukanya yang luar biasa, ceramah-ceramah Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî
mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap rakyat Banten. Dalam kunjunganya
ke berbagai daerah di Banten, dan tak henti-hentinya berseru kepada rakyat agar
memperbarui kehidupaan agama mereka agar lebih taat, menunaikan ibadah. Dan
zikir menjadi foukus kebangkitn kembali. Di banyak tempat pada
kesempatan-kesempatan khusus daiadakan malam zikiran. Zikir, shalawat, takbiran
dan arak-arakan menjadi bagian penting dari kehidupan agama, kebangkitan agama
kembali berlangsung dengan penuh semangat di banten, dapat dilihat dari
meningkatnya drastisnya jamaah di Masjid.
Didalam iklim
kerohanian seperti itu sangat wajar apabila Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî sangat
dihormati. Karena kramat, masyarakat menganggap sebagai wali Allah
sampai dikemudian hari dia dianggap sebagai kyai agung. Masyarakat mengetahuia
kekramatanya pada saat ada banjir besar bdari sungai Cidurian namun ia berhasil
selamat, yang padahal banjir itu menenggelamkan daerah Cikande, Kresek, Gunung
Kaler, Lempuyang, dan Tanara, padahal ia berada di tempat yang banyak
berjatuhan Korban. Pada saat di Mekah setiap santri harus mengisi air, namun
pada saat tiba giliran tempat air Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî sudah terisi air
padahal ia belum mengisinya. Begitupun saat dikenai denda, seorang residen
diganti dan bupati di pensiunkan.
Sehingga ta
ayal ia banyak memiliki murid-murid yang terkemuka, seperti Syekh Haji
Sangadeli dari Kaloran, Haji Asnawi dari Bendung Lempuyang, Haji Abubakar dari
Pontang, Haji Tubagus Ismail dari Gulacir, Haji Marzuki dari Tanara, dan Haji
Tubagus Muhammad Falak. Meraka memainkan peranan penting dalam pemberontakan
yang akan berlangsung, juga menjadi pribadi-pribadi yang berkharisma karena
dekat dengan sumbernya yaitu Wali Allah Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî.
Yang jauh
lebih penting bagi Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî selain dari
keuntungan-keuntungan materi yang mengalir terus adalah rasa hormat dan
kecintaan rakyat yang mendalam terhadap pemimpin-pemimpin itu. Karena menurut
masyarakat pada saat itu Haji atau Kyai tidak hanya harus lebih dihormati, juga
harus ditaati lebih dulu dibandingkan pamong praja pribumi, tidak mengherankan
para haji dan kyai dapat mengerahkan massa dengan mudah untuk segala macam
kegiatan.
Wujud lainya
dari pengaruh Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî, tampak ketika ia akan berangkat
kembali ke Mekah pada permulaan 1876. Dia di angkat menjadi pemimpin tarekat
Qaddiriyyah-Naqsyabandiyyah menggantikan Gurunya syekh Ahmad Khatîb al-Sambasî
sehingga ia terpaksa harus meningggalkan Banten. Sebelum beraangkat ia pergi
mengunjungi beberapa tempat di banten untuk menyerukan agar tetap memegang
teguh ketentuan agama dan menjauhkan diri dari melalaikan ibadah, ia juga
memilih beberapa Haji dan Kyai seperti Haji Tubagus Ismail, untuk menjaga kelangsungan
tarekat Qaddiriyyah-Naqsyabandiyyah.
Kabar
keberangatanya menimbulkan kegemparan dikalngan masyarakat, terutama
murid-muridnya, mereka berbondong-bondong menuju desa untuk melihatnya kali
terakhir. Saking banyaknya pengikutnya yang hendak memberikan ucapan terakhir
kepada “orang suci” membuat belanda ketar-ketir, karena banyaknya massa, untuk
mencega kericuhan akhirnya belanda meminta Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî untuk
mengubah rute perjalanannya, langsung menumpang kapal menuju Batavia.
Pada hari
keberangkatanya Senin 13 Februari 1876, tersiar desas-desus ada 1500-2000 orang
dari Haji, murid-muridnya dari Banten dan Batavia berkumpul di Tanara. Setelah
dilepas, Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî disertai sepuluh orang daari keluarganya,
enam orang pengawal perjalanan, dan tiga puluh atau empat puluh orang akan
menyertainya ke Batavia.
Syekh
´Abd-Karîm al-Bantanî kembali ke Mekah dan menetap selama sebelas tahun
kemudian. Ia tinggal di sebuah rumah besar dengan perabotan lengkap, tempat
bagi kerabatnya dan murid-muridnya yang kurang mampu. Cara hidupnya sederhana
tanpa terpengaruhi asketisme. Ketika Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî tiba di Mekah,
gurunya syekh Ahmad Khatîb al-Sambasî telah wafat, menjelang wafat, di tempat
tidurnya, ia menunjuk Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî sebagai penggantinya,
sehingga prestise Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî melambung tinggi.
D. Tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyah
Istilah
tarekat berasal dari bahasa Arab, Thariqah, yang artinya jalan atau
metode. Tarekat kemudian dipahami sebagai jalan spiritual yang ditempuh seorang
sufi untuk mendekatkat diri kepada Tuhan. Selain tarekat, sering juga dipakai
kata suluk yang artinya juga jalan spiritual, dan orangnya disebut
salik. Seorang sufi dapat digambarkan seperti pengembara yang harus
menempuh perjalanan panjang dan penuh dengan berbagai kesulitan.
Istilah Thariqah
dikaitkan istilah syari’ah dan haqiqah. Yang artinya jalan, syari’ah
adalah jalan utama berisi peraturan-peraturan keagamaan bersifat umum. Thariqah
adalah jalan yang lebih sempit yang terdapat dijalan utama syari’ah,
dan mengandung peraturan-peraturan yang lebih khusus bagi mereka yang ingin
mencapai tingkat keagamaan yag lebih tinggi.
Sedangkan haqiqah,
berarti kebenaran atau pengetahuan sejati tentang tuhan, yang ingin dicapai
melaui syari’ah dan Thariqah.
Dalam
perkembanganya, Thariqah digunakan untuk perkumpulan atau organisasi
tasawuf. Unsur utama dalam organisasi tarekat adalah mursyid dan murid.
Dalam perkembanganya timbul berbagai aturanyang kompleks dalam organisasi
tarekat, seperti baiat, berbagai bentuk perjanjian, khirqah (pakaian
khusus), silsilah (isnad), dan sebagainya.
Qodiriyah adalah nama sebuah tarekat yang didirikan oleh Syeikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul
Qodir Jaelani Al Baghdadi QS. Tarekat Qodiriyah berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria kemudian
diikuti oleh jutaan umat muslim yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia. Tarekat ini
sudah berkembang sejak abad ke-13. Namun
meski sudah berkembang sejak abad ke-13, tarekat ini baru terkenal di dunia
pada abad ke 15 M. Di Makkah, tarekat
Qodiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M.
Tarekat
Qodiriyah ini dikenal luwes. Yaitu bila murid sudah mencapai derajat syeikh,
maka murid tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikuti tarekat
gurunya. Bahkan dia berhak melakukan modifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya.
Hal itu seperti tampak pada ungkapan Abdul Qadir Jaelani sendiri, "Bahwa
murid yang sudah mencapai derajat gurunya, maka dia jadi mandiri sebagai syeikh
dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya."
Mungkin
karena keluwesannya tersebut, sehingga terdapat puluhan tarekat yang masuk
dalam kategori Qidiriyah di dunia Islam. Seperti Banawa yang berkembang pada abad ke-19, Ghawtsiyah (1517), Junaidiyah (1515 M), Kamaliyah (1584 M), dan lain-lain, semuanya berasal dari India. Di Turki terdapat tarekat
Hindiyah, Khulusiyah,dal lain-lain. Dan di Yaman ada tarekat
Ahdaliyah, Asadiyah, Mushariyyah. Sedangkan di Afrika diantaranya terdapat tarekat
Ammariyah, Tarekat
Bakka'iyah, dan lain sebagainya.
Tarekat Naqsyabandi
merupakan satu-satunya tarekat yang memiliki Silsilah transmisi pengetahuan
melalui pemimpin pertama ummat Islam, Abu Bakar as-Sidiq. Tidak seperti
tarekat-tarekat lainnya, dimana Silsilah-nya berpangkal dari salah satu
pemimpin spiritual dan Imam Syi’ah, yaitu Imam Ali Ibn Abi Thalib.
Dalam
perkembangannya Tarekat Naqsyabandiyyah tersebar luas di Asia tengah, Volga,
Kaukasia, Barat laut dan Barat daya China sampai ke Indonesia, sub-kepulauan
India, Turki, Eropa dan Amerika Utara.Tarekat Naqsyabandiyyah, lahir dan di
formalkan dengan menggunakan nama salah satu ahli Silsilah yang terkenal dan
memiliki banyak pengikut di berbagai pelosok Dunia Islam. Ia adalah Muhammad
Ibn Muhammad Baha’ al-Din al-Naqsyabandi, yang lahir dari kota Hinduwan atau kota
Arifan, Bukhara Uzbekistan pada tahun (717 H/1318 M – 791 H/1389 M).
Salah satu Karakter tarekat Naqsyabandi adalah tergambar melalui fakta
bahwa kesesuaian-nya dengan hukum-hukum Islam merupakan suatu hal yang teramat
penting dalam perkumpulan ini. Ketaatan yang mendalam terhadap hukum-hukum
syariat adalah thema yang sering di tekankan oleh banyak kalangan Naqsyabandi
dalam mendefinisikan jalan mistik mereka.

Silsilah tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyah :
Syekh Abdul Qoodir Al-
Jaelani. Qsa
Syekh Abul Aziiz ra
Syekh Muhmmad Hattaak ra
Syekh Syamsuddin ra
Syekh Syaroffuddin ra
Syekh Nuuruddiin ra
Syekh Waliyyuddin. Ra
Syekh Hisyammuddin ra
Syekh Yahya ra
Syekh Abu Bakr ra
Syekh Abdurrohiim ra
Syekh Utsman ra
Syekh Abdul Fattah ra
Syekh Muhammad Muraad ra
Syekh Syamsuddiin ra
Abd Al-Karim(Banten) Syekh
Tholhah r.a(Cirebon) Ahmad Hasbullah(Madura)
Abd Latif Ibn
Ali ( Pangersa Abah Anom Ra) Romly TamimKyai Muslih(Mranggen) Musta’in Romly(Rejoso)
Muhammad Thahir falak (Pagentongan,
Bogor)
Adlan
Aly (Jombang)
1. Pusat tarekat
Qadiriyyah-Naqyabandiyyah
a. Pesantren Darul Ulum Rejoso, yang
didirikan Oleh kiai Tamim dari bangkalan pada abad ke 19, ia adalah murid dari
Syekh Cholil Bangkalan, dan 5 mursyid terakhir berasal dari pesantren ini.
Rejoso merupakan pusat tarekat Qadiriyyah-Naqyabandiyyah di Jawa Timur.
b. Pesantren Suryalaya Tasikmalaya,
yang didirikan oleh oleh syekh Thalha pada tahun 1905. Awalnya tarekat ini
didirikan di Cirebon oleh syekh Thalha, bergeser ke Pesanteren Suryalaya
Tasikmalaya, yang di teruskan oleh Abah sepuh dan kemudian dilanjutkan oleh
anaknya Abah Anom.
c. Didirikan pula oleh Syekh
´Abd-Karîm al-Bantanî di Banten yang kemudian diteruskan oleh Kyai Asnawi dan Oleh murid-muridnya.
d. Dan Pusat yang terakhir Qadiriyyah-Naqyabandiyyah adalah
di Pagentongan Bogor, yang dirintis oleh Kyai Tubagus Muhammad Falak, Ia adalah
murid dari Syekh ´Abd-Karîm
al-Bantanî, anak dari Tubagus Abbas dan Ratu Quraisyin, setelah pulang dari
menuntut ilmu di Mekah ia pun hijrah dari Banten ke Pagentongan Bogor.
2. Tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandyah di Banten sebagai Organisasi Pemberontakan
Syekh Ahmad Khatib Sambas memiliki ua murid di banten Syekh Nawawi dan Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî, namun ia menyerahkan kepada Syekh ´Abd-Karîm
al-Bantanî untuk meneruskan, namun hubungan keduanya tetap terjaga dengan baik.
Syekh ´Abd-Karîm
al-Bantanî memberikan ijazah kepada Syekh Asnawi Carigin, Labuan Pandeglang,
berkat Syekh Asnawi perkembangan Islam begitu semarak, terutama di Banten
selatan, ia juga memiliki banyak khlifah antara lain Syekh Abd Lathif Abn Ali
dan Kyai Suhaeri Dari Cibeber.
Saat ini tidaak banyak
yang tersisa dari tarekat ini di Banten karena mungkin yang tujun awalnya
tarekat ini lebih ditujukan pada menggalang massa pemberontakan.
Syekh ´Abd-Karîm
al-Bantanî juga memiliki murid yang bernama Tubagus Ismail, dan ada juga
muridnya yang paling setia adalah Haji Marjuki.
Tubagus Ismail memulai
propaganda untuk gerakan pemberontakan melawan kekuasaan orang-orang kafir
setelah banyak masyarakat yang tertarik akan kharismanya sebagai murid dari Syekh
´Abd-Karîm al-Bantanî.
Sedangkan Haji Marjuki
setalah pulang menuntut ilmu dari Mekah ia pun tinggal di desa asalanya yaitu
Tanara, di periode kedua ia tinggal di Banten ia pun Mulai mempunyai reputasi
yang cukup mumpuni, pada Februari 1887, Haji Marjuki Tiba di Batavia dia di
denda karena tidak memiliki Paspor oleh Belanda. Haji marjuki berpera penting
dalam menggalang dan mempropagandakan pemberontakan sehingga pejabat-pejabat di
Banten menganggapnya orang yang paling bertanggung jawab atas pemberontakan di
banten, namun sebelum peperangan di mulai ia hijrah ke Mekah, dan di teruskan
oleh Haji Wasid.
Denagan penuh semangat
Haji Wasid melakukan propaganda, terutama untuk Kyai-kyai di luar Banten, sebab
menurut beliau pemberontakan akan berhasil jika mengikut sertakan sebagian
besar pendududk yang tersebar didaerah yang luas, dia meluaskan kegiatanya ke
Batavia, Bogor, cianjur dimana para Kyainya dapat menerima jalan jihad denagan
terbuka, sehinngga menghimpun masa banyak untuk pemberontakan.
Syekh ´Abd-Karîm
al-Bantanî telah melahirkan dua jalur tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah yang
berbeda tujuanya, dimana muridnya Kyai Muslih dan Abah Falak dari Pagentongan
bertujuan untuk mengembangkan tarekat sebagai mana mestinya, dan di Banten
digunakan untuk mobilitas massa untuk pemberontakan
E. Dotrin sufi revolusioner dalam
pemberontakan petani banten 1888
Menurut Nurcholis Madjid, tasawuf lahir sebagai
Gerakan oposisi terhadap penguasa Bani Ummayah –kecuali Umar Ibn Azia yang
hanya tertarik pada kekuasaan.
Wujud oposisi keagamaan terhadap rezim Damaskus itu
yang paling terkenal adalah dilakukan oleh toko saleh, Hasan al-Basri dari
Basrah. Gerakan oposisi terhadap rezimawi, sebagian karena dorongan politik.
Oposisi kaum sufi yang terorganisir dalam tarekat
mencapai puncaknya ketika bangsa-bangsa Eropa menjajah bangsa-bangsa Islam,
terutama bangsa Indonesia terhadap kolonialisme Belanda yang melibatkan
Tokoh-tokoh dan penganut Tarekat.
Untuk kasus pemberontakan petani Banten terjadi
karena sang Guru memiliki kharisma yang luar biasa. Max Webber memperkenalkn
konsep kharisma sebagai otoritas karisma dengan pikiran bahwa ada suatu bentuk
yang berlansung antara seorang pemimpin dankomunitas kharismatik.
Berdasarkan pengartian otoritas kharisma Webber itu
wajar sebagai tipe keabsahan.
Syekh
´Abd-Karîm al-Bantanî , ulama besar dan orang suci di mata rakyat, adalaah yang
paling menonjol diantara pemimpin-pemimpin gerakanpemberontakan petani banten.
Doktrin Syekh
´Abd-Karîm al-Bantanî ialah :
1.
Kedatangan Imam Mahdi
Mahdi yang secara harfiah yang berarti penunjuk
jalan yang benar, adlah nama yang diberikan kepada seorang tokoh mesianik yang
akan muncul menjelang hari kiamat dan menghancurkan Nabi palsu yang di sebut
al-Dajjal.
Paham mahdisme adalah ajaran yang meyakini akan
datangya seorang tokoh juru selamat pada umat tertindas akibat merajalelanya
kezaliman, tokoh tersebtu oleh sebagian orang jaw adisebut Ratu adil.
Kedatangan mahdi didahului oleh suatu periode
kekacauan besar, ketiadaan imam dam peperangan, pada suatu sat nantinya, mahdi
akan muncul untuk memulihkan tradisi dan agama sejati, dia akan memperbarui
islam, menegakan kembali keagunganya, dan memusnahkan orang kafir.
2.
Pesan terakhir Nabi Muhammad SAW
Dalam sejarah islam yang dinamakan Pesan terakhir
Nabi Muhammad SAW ilah Khotbah terakhir beliau tatkala haji wada pada 9
zulhijah 10 hijriah, yang kemudian membakar para pemimpi tarekat untuk
melakukan pemberontakan kepada kolonialisme Belanda.
3.
Mendirikan negara islam (Dar al-Isam)
Kepada murid-muridnya yang paling dekat Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî memberitahukan bahwa dai tidak bermaksud
kembali ke banten, selama daerah itu masih terbelenggu jajahan asing, hanya
diatas bumi yang murni ia akan menginjakan kaki.
4. Jihad fi sabilillah
Tujuan
terakhir yang hendak dicapai Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî adalah mendirikan
negara islam, yang dimana para pengikutnya memiliki kesadaran nusantara harus
di buat negara islam dengan mengusir para penjajah dari bumi pertiwi, dan
dengan waktu yang memungkinkan negeri mereka akan diubah dengan menggunakan
kekuatan dan menjadi wilayah islam.
0 komentar:
Posting Komentar
silahkan berkomentar, tapi yang sopan ya gan