Nama                          : MULYADI
Nim                             : 1111015000060
Kelas                           : Pendidikan IPS 4 C (geografi)
Tugas                          : Resensi Buku Mata Kuliah Sejarah

Judul Buku                  : DOKTRIN AGAMA “SYEKH ´ABD-KARÎM AL-BANTANΔ                           DALAM PEMBERONTAKAN PETANI BANTEN 1888
Author/Penulis            : Hendri F.Isnaeni
Publisher                     : Kreasi Cendekia Pustaka, Tebet-jakarta
Harga Jual                   : Rp. 37.500,-
ISBN/BAN                 : 978-602-19987-3-1
Bulan/Tahun Terbit     : September 2012
Code Buku                  : 349004235
Group/Kategori           : Non-Fiction
Sub Group                   : Sejarah Agama
Panjang x Lebar Buku            : 15 x 23 cm
Jumlah Halaman          : x+118 hal
Nama Editor               : Dimas Saputera
Berat Buku                  : 170 gr

A.    Pendahuluan
Sekitar 124 tahun yang lalu pecah pembrontakan rakyat Banten melawan Belanda dan antek-anteknya, pembrontaka yang relatif singkat dari tanggal 09-30 Juli 1888 didistrik Anyer ini, oleh sejarawan Sartono kartodirjo di sebut sebagai pemberontakan petani Banten, pemberontakan ini hanya merupakan satu dari serentetan pemberontakan yang terjadi di Banten selama abad Ke-19.
Pemberontakan-pemberontakan tersebut, terutama di Banten, terjadi karena pergolakan sosial yang mendapatkan  legitimasi keagamaan, masyarakat yang jengah karena kegiatan kolonial bangkit oleh kepemimpinan seorang tokoh agama yang membawa pesan mesianisme.
Kebangkitan agama mewujud dalam bentuk sekolah atau perkumpulan-perkumpulan mistik (Tarekat). Organisasi terkaitinilah yang menjadi wadah konsolidasi dan yang terpenting adalah penanaman doktrin-doktrin keagamaan untuk mengesahkan pemberontakan, tokoh sentral yang mendoktrin para pemberontak dalam pemberontakan petani banten adalah Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî.
Salah satu keistimewaan islam adalah bahwa tasawuf, yaitu usaha batin yang kelihatan terbatas pada kalangan elite, justru mampu melahirkan gerakan-gerakan masa seperti tarekat. Tarekat yang secara harfiah berarti “Jalan”, mengacu pada dua makna, yakni sebagai pengaduan dari doktrin, metode dan ritual; dan sebagai organisasi yang menyatukan para pengikut “jalan” tersebut. Seorang pembimbing spiritual (Mursyid) akan menuntun anggotanya kejalan kesucian, dan oleh karenanya terjadi pengeramatan terhadap mursyid tersebut, sampai menjadi kegiatan utama tarekat tersebut.
Sebagai organisasi, tarekat tidak hanya berperan menuntun para pengikutnya melakukan ritual-ritual tarekat menuju Tuhan; tetapi juga menjadi kekuatan masa yang mampu membawa perubahan radikal denga cara pemberontakan. Di Nusantara, beberapa tarekat telah turut ambil bagian dalam politik dan ada kalanya cenderung menjadi militan.
Hal ini karena tarekat merupakan alat yang efektif untuk mobilisasi massa, mengorganisasikan gerakan keagamaan, dan menyelenggarakan indoktrinasi tentang cita-cita keagamaan. Dengan kata lain, tarekat bukan hanya pusat kebangkitan agama, melainkan juga sebagai tempat protes politik, kekuatan-kekuatan perlawanan yang terkandung secara inhern dalam tarekat menyebabkan gerakan protes menuju jalan yang ekstrem.
Kolonialisme Belanda yang dimulai sejak abad ke 16 mencapai puncaknya pada abad 1830, terutama di Jawa. Untuk pertama kalinya Belanda berhasil mengekspolitasi dan menguasai seluruh pulau ini. Tidak ada sama sekali tantangan serius terhadap kekuasaan mereka, selain beberapa tindakan revolusioner yang bersifat endemis, radikal, dan abortif. Namun itu pun dengan mudah dipatahkan, karena kekuatan pribumi dalam merencanakan perlawana belum matang.
Periode pergolakan sosial pada abad Ke-19 mengiringi perubahan sosial yag diakibatkan oleh kolonialisme yang semakin kuat meruntuhkan tradisi lokal. Tekanan modernisme, disertai gerakan ekonomi dan politik kapitalis, mengakibatkan kemerosotan mental rakyat jajahan baik dalam sektor ekonomi, sosial, politik, agama . budaya, dan lain-lain.
Hal ini terjadi di banten, selama abad ke 19, serentetan pembrontakan terhadap pemerintahan kolonialisme meletus, bahkan saking sering rakyat banten memberontak, baik dalam skala kecil dan sekala besar, membuat Banten disebut sebagai tempat persemaiaan dan gelanggan ng pemberontakan, dan salah satu pemberontakan paling besar adalah pemberontakan petani Banten pada 9 Juli 1888.
Di tinjau dari segi gerakan sosial, faktor-faktor yang menyebabkan pergolakan dan keresahan sosial sangat kompleks dan beranekaragam. Peristiwa revolusioner itu bisa diletakkan di dalam konteks perkembangan kelembagaan ekonomi, sosial, politik, dan agama. Aspek politik merupakan faktor yang menonjol dalam semua gerakan sosial di Banten, termasuk Pemberontakan Petani Banten 1888. Kebencian rakyat terhadap pamong praja Banten hampir sama mendalamnya dengan permusuhan terhadap penguasa-penguasa asing, yaitu Belanda. Sebab, para pamong praja menjadi agen-agen kolonial sebagai pemungut pajak rakyat Banten. Kegusaran penduduk terhadap pajak berubah menjadi pemberontakan ketika mereka harus menjual hasil pertaniannya dengan harga yang rendah. Ditambah lagi wabah penyakit dan bencana alam menjadi lengkaplah penderitaan rakyat, yang mendorong mereka ingin mengakhiri penderitaan dengan memberontak.
Namun, pemberontakan tidak akan pernah meletus, tanpa seorang pemimpin. Para pemimpin pemberontak datang dari kalangan elite agama atau kiai dan kaum aristokrat lama, yang merasa kedudukan istimewanya terancam oleh pemerintah kolonial Belanda. Tersisihnya mereka dari ranah politik rupanya telah menyebabkan mereka mudah terpengaruh untuk melakukan dan menggerakkan pemberontakan, sebagai cara untuk menyalurkan ketidakpuasan dan rasa dendam mereka. Sikap memberontak ini juga diperkuat lagi oleh kebencian religius mereka terhadap kekuasaan “orang-orang kafir.” Tidak disangsikan lagi bahwa hampir semua pemberontakan diwarnai oleh faktor keagamaan.
Tokoh penting dalam pemberontakan petani Banten adalah Syekh ‘Abd al-Karim al-Bantani, seorang khalifah tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah. Dia yang lama tinggal dan belajar di Mekah, kembali ke Banten. Dalam waktu tiga tahun di kampung halamannya dia menanamkan doktrin-doktrin agama yang mendorong pecahnya pemberontakan, antara lain kedatangan Imam Mahdi, peringatan terakhir Nabi Muhammad Saw., mendirikan negara Islam (Dar al-Islam), dan Perang Sabil (Jihad fi Sabilillah).
Namun jauh sebelum itu, pemberontakan yang melibatkan tarekat, terjadi ketika Syekh Yusuf al-Makasasari membantu sultan Ageng tirtayasa melawan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau Perserikata Perusahaan Hindia Timur) yang membantu Sultan Haji, anak sultan Ageng Tirtayasa. Syekh Yusuf mempelajari dan bergabungdengan tarekat Qadiriyah di Aceh, Naqsyabandiyyah di Yaman, tarekat Sattariyyah dan Khalwatiyyah di Mekah dan Madinah, kembali ke Nusantara 1672 dengan Gelar al-Taj al-Khalwati memilih hidup di banten dan memperkenalkan tarekatnya sendiri: Khalwatiyyah-Yusuf. Selain itu ia juga mengajarkan tarekat Sattariyyah, Naqsyabandiyyah, Qadiriyyah, dan Ba’alwiyyah. Dan menjadi penasehat Sultan Ageng Tirtayasa.
Begitu pula dengan pemberontakan Petani Banten 1888, kerangka organisasinya digerakan oleh tarekat Qadirriyah Naqsyabandiyyah. Tokoh utama yang membuka dan meratakan jalan bagi pemberontakan adalah mursyid tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah  yang lama tinggal dan belajar di Mekkah: Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî.
Meskipun Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî tidak ikut dalam pemberontakan karena dipanggil kembali ke Mekkah oleh gurunya Ahmad Khatîb al-Sambasî, namun ia telah menanamkan doktrin-doktrin yang menjadi bekal bagi para pemberontak. Dalam hal ini –meminjam istilah John L. Esposito dalam menjuluki pemikir Iran Alî syari’atî dalam revolusi Islam di Iran- kita bisa menyebut Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî sebagai “ perumus dan penyedia ideologi revolusi’, dengan kata lain. Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî-lah yang telah mempersiapkan doktrin-doktrin Agama atau landasan Spiritual bagi rakyat banten untuk melakukan Pemberontakan.
Setelah Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî tiba di banten pada tahun 1872, tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah  memperoleh momentumya. Di bawah pengaruhnya, tarekat ini semakin berakar di kalangan  para kiyai dan mempersatukan mereka, dimana sebelmnya mereka menyelenggarakan pesantren sendiri-sendiri, bahkan saling bersaing untuk meraih nama sebagai ulama yang pandai, “Dukun” yang ampuh, atau mistikus yang ulung, dengan berlindung di balik Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî pengaruh para kiyai dimata para pengikutnya semakin bertambah, dengan memasuki tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah, maka kesetiaan para santri kepada kiai dan persaudaraan dikalangan santri menjadi lebih kokoh , selain itu ilmu kiai memperkuat kharismanya dimata saantri-santrinya.
Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî berkeliling ke pelosok-pelosok daerah di Banten dan dari Masjid sampai Mushola untuk menyampaikan khotbah yang isinya sangat keras dalam soal-soal keagamaan dan bernada Puritan. Selain mengingatkan agar menaati ketentuan-ketentuan dalam al-Quran, dengan menekankan pada salat, zakat, puasa, dan berzikir sebagai esensi dari tarekat; Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî juga menanamkan doktrin-doktrin eskatologis  seperti tentang kedatangan Imam Mahdi, peringatan terakhir nabi Muhammad SAW. Perintah mendirikan negara islam (dâr al-islâm) dan perang sabil (jîhâd fî sabilillâh).

B.     Riwayat dan Hikayat Syekh Agung ´Abd-Karîm Al-Bantanî
Sebagaimana biasa terjadi pada setiap kemunculan gerakan politik atau keagamaan, seorang tokoh-seorang pemimpin yang kharismatik, atau seorang demagog, atau keduaduanya diidentikan dengan gerakan itu sendiri. Begitu pula halnya yang terjadi dalam pemberontakan petani banten 1888, dengan kemunculan seorang sufi bernama Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî.
Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî lahir di Lampuyang, Tanara, Serang, Banten pada 1840 dia adalah putra Ki Mas Tanda, keturunan bangsawan Banten Melalui Jalur pangeran Sunyararas, putra Maulana Hasanuddin, Sultan Banten pertama (memeritah 1552-1570) dengan Ratu Ayu Kirana, puteri Sultan Trenggono. Silsilah lengkapnya adalah Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî ibn Mas Tanda ibn Ki Mas Ruyani ibn Ki Mas Ahmad Matin ibn Ki Mas Ali ibn Ki Mas Bugel ibn Ki Mas Jamad ibn Ki Mas Janta Ki Mas Kun ibn Pangeran Sunyararas ibn Sultan Maulana Hasanuddin.
Sejak masih muda beliau sudah pergi menuntut ilmu ke Mekah, dimasa remajanya ia sudah fasih berbahasa Arab dan membaca tulisan-tulisan Arab, dia juga memiliki pengetahuan cendekia tentaang teologi islam.
 Sebagai anak muda, Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî mendapat kehormatan untuk diminta oleh dan mengabdi kepada syekh Ahmad Khatîb al-Sambasî, yang sedang di puncak prestasinya, sebagai murid dan melayani di rumahnya, tentusaja ini dimanfaat kan oleh Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî dengan baik untuk berguru kepadanya, yang diakui memiliki ilmu tinggi dan mencapia derjat tertinggi dalam tarekat Qadiryyah.
Beberapa dia antara orang-orang dari nusantara tinggal dirumah syekh Ahmad Khatîb al-Sambasî, dia mengajarkan seni pengajian Al-Quran secara perorangan kepdada banyak orang Jawa.
Melalui tarekat dan rabbath-nya, syekh ahmad telah memberikan dukunganya yang besar dalam mengembangkan dan menata mata rantai masyarakat islam, khususnya melayu atau nusantara, sehingga dia dapat menarik pengikut setia banyak sekali dari wilayah ini, ia pun menurut Snouck Horgronje, merupakan ulama terkenal yang menguasai berbagai macam cabang ilmu penhetahuan islam, bahkan dianggap melebihi teman-temanya dari Hindia-Belanda karena kedudukanya sebagai pemimpin tarekat Qadiriyyah di Mekah.
 Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî menunjukan hasrat yang mendalam untuk menimba ilmu dan menaruh perhatian yang besar terhadap ajaran-ajaran Islam syekh Ahmad Khatîb al-Sambasî. meski Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî tidak terlalu mendalami ilmu pengetahuan namun ia sangat menguasai ilmu tarekat. serta mendalami tasawuf serta mengikuti tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah kepada Syekh Ahmad Khatib Sambas, yang didalamnya diadakan pembacaan zikir dan diakhiri dengan pembacaan puisi penghargaan terhadap Nabi Muhammaad SAW. sampai akhirnya mendapat ijazah untuk menjadi khalifah Syekh Ahmad Khatib.  Tugas pertama yang diembannya adalah melayani guru tarekat di Singapura selama beberapa tahun.
Pada 1872 beliau kembali ke kampung halamannya, desa Lempuyang dan menetap di sana sekitar tiga tahun lamanya. Sebagai mana yang disarankan oleh gurunya di Mekah, dia mengankat dirinya sebagai Mursyid dan imam sebuah peran yang membuat  dirinya sangat di cintai masyarakat  dan orang jawa.
Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî mendirikan sebuah pesantren  dan dalam waktu singkat dia memiliki murid-murid yang setia, mengabdi dan patuh kepadanya. Sulit untuk memperkirakan jumlah pengikutnya. Dan dengan cepat tampil sebagai tokoh yang dominan di kalangan elite agama.
Dan dengan kekayaan yang dimilikinya, memungkinkan dia mengunjungngi daerah-daerah di Bantensambil tak henti-hentinya mengajakan tarekatnya. Disamping mengajarkan pada masyarakat banyak ia juga mengajarkan pada sejumlah tokoh terkemuka, termasuk kapada penghulu Serang dan pensiunan patih, R.A Prawiranegara adalah sahabat-sahabatnya. Mereka sangat terkesan oleh ide idenya, kenyatan ini membuat prestise nya membumbung tinngi.

C.    Sebagai Sumber Kharisma
Berkat kedudukanya yang luar biasa, ceramah-ceramah Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap rakyat Banten. Dalam kunjunganya ke berbagai daerah di Banten, dan tak henti-hentinya berseru kepada rakyat agar memperbarui kehidupaan agama mereka agar lebih taat, menunaikan ibadah. Dan zikir menjadi foukus kebangkitn kembali. Di banyak tempat pada kesempatan-kesempatan khusus daiadakan malam zikiran. Zikir, shalawat, takbiran dan arak-arakan menjadi bagian penting dari kehidupan agama, kebangkitan agama kembali berlangsung dengan penuh semangat di banten, dapat dilihat dari meningkatnya drastisnya jamaah di Masjid.
Didalam iklim kerohanian seperti itu sangat wajar apabila Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî sangat dihormati. Karena kramat, masyarakat menganggap sebagai wali Allah sampai dikemudian hari dia dianggap sebagai kyai agung. Masyarakat mengetahuia kekramatanya pada saat ada banjir besar bdari sungai Cidurian namun ia berhasil selamat, yang padahal banjir itu menenggelamkan daerah Cikande, Kresek, Gunung Kaler, Lempuyang, dan Tanara, padahal ia berada di tempat yang banyak berjatuhan Korban. Pada saat di Mekah setiap santri harus mengisi air, namun pada saat tiba giliran tempat air Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî sudah terisi air padahal ia belum mengisinya. Begitupun saat dikenai denda, seorang residen diganti dan bupati di pensiunkan.
Sehingga ta ayal ia banyak memiliki murid-murid yang terkemuka, seperti Syekh Haji Sangadeli dari Kaloran, Haji Asnawi dari Bendung Lempuyang, Haji Abubakar dari Pontang, Haji Tubagus Ismail dari Gulacir, Haji Marzuki dari Tanara, dan Haji Tubagus Muhammad Falak. Meraka memainkan peranan penting dalam pemberontakan yang akan berlangsung, juga menjadi pribadi-pribadi yang berkharisma karena dekat dengan sumbernya yaitu Wali Allah Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî.
Yang jauh lebih penting bagi Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî selain dari keuntungan-keuntungan materi yang mengalir terus adalah rasa hormat dan kecintaan rakyat yang mendalam terhadap pemimpin-pemimpin itu. Karena menurut masyarakat pada saat itu Haji atau Kyai tidak hanya harus lebih dihormati, juga harus ditaati lebih dulu dibandingkan pamong praja pribumi, tidak mengherankan para haji dan kyai dapat mengerahkan massa dengan mudah untuk segala macam kegiatan.
Wujud lainya dari pengaruh Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî, tampak ketika ia akan berangkat kembali ke Mekah pada permulaan 1876. Dia di angkat menjadi pemimpin tarekat Qaddiriyyah-Naqsyabandiyyah menggantikan Gurunya syekh Ahmad Khatîb al-Sambasî sehingga ia terpaksa harus meningggalkan Banten. Sebelum beraangkat ia pergi mengunjungi beberapa tempat di banten untuk menyerukan agar tetap memegang teguh ketentuan agama dan menjauhkan diri dari melalaikan ibadah, ia juga memilih beberapa Haji dan Kyai seperti Haji Tubagus Ismail, untuk menjaga kelangsungan tarekat Qaddiriyyah-Naqsyabandiyyah.
Kabar keberangatanya menimbulkan kegemparan dikalngan masyarakat, terutama murid-muridnya, mereka berbondong-bondong menuju desa untuk melihatnya kali terakhir. Saking banyaknya pengikutnya yang hendak memberikan ucapan terakhir kepada “orang suci” membuat belanda ketar-ketir, karena banyaknya massa, untuk mencega kericuhan akhirnya belanda meminta Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî untuk mengubah rute perjalanannya, langsung menumpang kapal menuju Batavia.
Pada hari keberangkatanya Senin 13 Februari 1876, tersiar desas-desus ada 1500-2000 orang dari Haji, murid-muridnya dari Banten dan Batavia berkumpul di Tanara. Setelah dilepas, Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî disertai sepuluh orang daari keluarganya, enam orang pengawal perjalanan, dan tiga puluh atau empat puluh orang akan menyertainya ke Batavia.
Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî kembali ke Mekah dan menetap selama sebelas tahun kemudian. Ia tinggal di sebuah rumah besar dengan perabotan lengkap, tempat bagi kerabatnya dan murid-muridnya yang kurang mampu. Cara hidupnya sederhana tanpa terpengaruhi asketisme. Ketika Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî tiba di Mekah, gurunya syekh Ahmad Khatîb al-Sambasî telah wafat, menjelang wafat, di tempat tidurnya, ia menunjuk Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî sebagai penggantinya, sehingga prestise Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî melambung tinggi.

D.    Tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyah
Istilah tarekat berasal dari bahasa Arab, Thariqah, yang artinya jalan atau metode. Tarekat kemudian dipahami sebagai jalan spiritual yang ditempuh seorang sufi untuk mendekatkat diri kepada Tuhan. Selain tarekat, sering juga dipakai kata suluk yang artinya juga jalan spiritual, dan orangnya disebut salik. Seorang sufi dapat digambarkan seperti pengembara yang harus menempuh perjalanan panjang dan penuh dengan berbagai kesulitan.
Istilah Thariqah dikaitkan istilah syari’ah dan haqiqah. Yang artinya jalan, syari’ah adalah jalan utama berisi peraturan-peraturan keagamaan bersifat umum. Thariqah adalah jalan yang lebih sempit yang terdapat dijalan utama syari’ah, dan mengandung peraturan-peraturan yang lebih khusus bagi mereka yang ingin mencapai tingkat keagamaan yag lebih tinggi.
Sedangkan haqiqah, berarti kebenaran atau pengetahuan sejati tentang tuhan, yang ingin dicapai melaui syari’ah dan  Thariqah.
Dalam perkembanganya, Thariqah digunakan untuk perkumpulan atau organisasi tasawuf. Unsur utama dalam organisasi tarekat adalah mursyid dan murid. Dalam perkembanganya timbul berbagai aturanyang kompleks dalam organisasi tarekat, seperti baiat, berbagai bentuk perjanjian, khirqah (pakaian khusus), silsilah (isnad), dan sebagainya.
Qodiriyah adalah nama sebuah tarekat yang didirikan oleh Syeikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Jaelani Al Baghdadi QS. Tarekat Qodiriyah berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria kemudian diikuti oleh jutaan umat muslim yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia. Tarekat ini sudah berkembang sejak abad ke-13. Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13, tarekat ini baru terkenal di dunia pada abad ke 15 M. Di Makkah, tarekat Qodiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M.
Tarekat Qodiriyah ini dikenal luwes. Yaitu bila murid sudah mencapai derajat syeikh, maka murid tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikuti tarekat gurunya. Bahkan dia berhak melakukan modifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya. Hal itu seperti tampak pada ungkapan Abdul Qadir Jaelani sendiri, "Bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya, maka dia jadi mandiri sebagai syeikh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya."
Mungkin karena keluwesannya tersebut, sehingga terdapat puluhan tarekat yang masuk dalam kategori Qidiriyah di dunia Islam. Seperti Banawa yang berkembang pada abad ke-19, Ghawtsiyah (1517), Junaidiyah (1515 M), Kamaliyah (1584 M), dan lain-lain, semuanya berasal dari India. Di Turki terdapat tarekat Hindiyah, Khulusiyah,dal lain-lain. Dan di Yaman ada tarekat Ahdaliyah, Asadiyah, Mushariyyah. Sedangkan di Afrika diantaranya terdapat tarekat Ammariyah, Tarekat Bakka'iyah, dan lain sebagainya.
Tarekat Naqsyabandi merupakan satu-satunya tarekat yang memiliki Silsilah transmisi pengetahuan melalui pemimpin pertama ummat Islam, Abu Bakar as-Sidiq. Tidak seperti tarekat-tarekat lainnya, dimana Silsilah-nya berpangkal dari salah satu pemimpin spiritual dan Imam Syi’ah, yaitu Imam Ali Ibn Abi Thalib.
Dalam perkembangannya Tarekat Naqsyabandiyyah tersebar luas di Asia tengah, Volga, Kaukasia, Barat laut dan Barat daya China sampai ke Indonesia, sub-kepulauan India, Turki, Eropa dan Amerika Utara.Tarekat Naqsyabandiyyah, lahir dan di formalkan dengan menggunakan nama salah satu ahli Silsilah yang terkenal dan memiliki banyak pengikut di berbagai pelosok Dunia Islam. Ia adalah Muhammad Ibn Muhammad Baha’ al-Din al-Naqsyabandi, yang lahir dari kota Hinduwan atau kota Arifan, Bukhara Uzbekistan pada tahun (717 H/1318 M – 791 H/1389 M).
Salah satu Karakter tarekat Naqsyabandi adalah tergambar melalui fakta bahwa kesesuaian-nya dengan hukum-hukum Islam merupakan suatu hal yang teramat penting dalam perkumpulan ini. Ketaatan yang mendalam terhadap hukum-hukum syariat adalah thema yang sering di tekankan oleh banyak kalangan Naqsyabandi dalam mendefinisikan jalan mistik mereka.



Silsilah tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyah :
Syekh Abdul Qoodir Al- Jaelani. Qsa
Syekh Abul Aziiz ra
Syekh Muhmmad Hattaak ra
Syekh Syamsuddin ra
Syekh Syaroffuddin ra
Syekh Nuuruddiin ra
Syekh Waliyyuddin. Ra
Syekh Hisyammuddin ra
Syekh Yahya ra
Syekh Abu Bakr ra
Syekh Abdurrohiim ra
Syekh Utsman ra
Syekh Abdul Fattah ra
Syekh Muhammad Muraad ra
Syekh Syamsuddiin ra
Syekh Ahmad KHaatib Syambas Ibni Abdil Ghofar ra


  Abd Al-Karim(Banten)                      Syekh Tholhah r.a(Cirebon)             Ahmad Hasbullah(Madura)
  Asnawi Caringin                                                   ( Abah Sepuh )                                        Cholil Bangkalan
  Abd Latif Ibn Ali                                   ( Pangersa Abah Anom Ra)                                   Romly Tamim
  Kyai Muslih(Mranggen)                                                                                                       Musta’in Romly(Rejoso)

  Muhammad Thahir falak (Pagentongan, Bogor)
                                                                                                                                Adlan Aly (Jombang)



1.      Pusat tarekat Qadiriyyah-Naqyabandiyyah
a.       Pesantren Darul Ulum Rejoso, yang didirikan Oleh kiai Tamim dari bangkalan pada abad ke 19, ia adalah murid dari Syekh Cholil Bangkalan, dan 5 mursyid terakhir berasal dari pesantren ini. Rejoso merupakan pusat tarekat Qadiriyyah-Naqyabandiyyah di Jawa Timur.
b.      Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, yang didirikan oleh oleh syekh Thalha pada tahun 1905. Awalnya tarekat ini didirikan di Cirebon oleh syekh Thalha, bergeser ke Pesanteren Suryalaya Tasikmalaya, yang di teruskan oleh Abah sepuh dan kemudian dilanjutkan oleh anaknya Abah Anom.
c.       Didirikan pula oleh  Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî di Banten yang kemudian diteruskan oleh  Kyai Asnawi dan Oleh murid-muridnya.
d.      Dan Pusat  yang terakhir Qadiriyyah-Naqyabandiyyah adalah di Pagentongan Bogor, yang dirintis oleh Kyai Tubagus Muhammad Falak, Ia adalah murid dari Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî, anak dari Tubagus Abbas dan Ratu Quraisyin, setelah pulang dari menuntut ilmu di Mekah ia pun hijrah dari Banten ke Pagentongan Bogor.
2.      Tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandyah di Banten sebagai Organisasi Pemberontakan
Syekh Ahmad Khatib Sambas memiliki ua murid di banten Syekh Nawawi dan Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî, namun ia menyerahkan kepada Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî untuk meneruskan, namun hubungan keduanya tetap terjaga dengan baik.
Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî memberikan ijazah kepada Syekh Asnawi Carigin, Labuan Pandeglang, berkat Syekh Asnawi perkembangan Islam begitu semarak, terutama di Banten selatan, ia juga memiliki banyak khlifah antara lain Syekh Abd Lathif Abn Ali dan Kyai Suhaeri Dari Cibeber.
Saat ini tidaak banyak yang tersisa dari tarekat ini di Banten karena mungkin yang tujun awalnya tarekat ini lebih ditujukan pada menggalang massa pemberontakan.
Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî juga memiliki murid yang bernama Tubagus Ismail, dan ada juga muridnya yang paling setia adalah Haji Marjuki.
Tubagus Ismail memulai propaganda untuk gerakan pemberontakan melawan kekuasaan orang-orang kafir setelah banyak masyarakat yang tertarik akan kharismanya sebagai murid dari Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî.
Sedangkan Haji Marjuki setalah pulang menuntut ilmu dari Mekah ia pun tinggal di desa asalanya yaitu Tanara, di periode kedua ia tinggal di Banten ia pun Mulai mempunyai reputasi yang cukup mumpuni, pada Februari 1887, Haji Marjuki Tiba di Batavia dia di denda karena tidak memiliki Paspor oleh Belanda. Haji marjuki berpera penting dalam menggalang dan mempropagandakan pemberontakan sehingga pejabat-pejabat di Banten menganggapnya orang yang paling bertanggung jawab atas pemberontakan di banten, namun sebelum peperangan di mulai ia hijrah ke Mekah, dan di teruskan oleh Haji Wasid.
Denagan penuh semangat Haji Wasid melakukan propaganda, terutama untuk Kyai-kyai di luar Banten, sebab menurut beliau pemberontakan akan berhasil jika mengikut sertakan sebagian besar pendududk yang tersebar didaerah yang luas, dia meluaskan kegiatanya ke Batavia, Bogor, cianjur dimana para Kyainya dapat menerima jalan jihad denagan terbuka, sehinngga menghimpun masa banyak untuk pemberontakan.
Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî telah melahirkan dua jalur tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah yang berbeda tujuanya, dimana muridnya Kyai Muslih dan Abah Falak dari Pagentongan bertujuan untuk mengembangkan tarekat sebagai mana mestinya, dan di Banten digunakan untuk mobilitas massa untuk pemberontakan

E.     Dotrin sufi revolusioner dalam pemberontakan petani banten 1888
Menurut Nurcholis Madjid, tasawuf lahir sebagai Gerakan oposisi terhadap penguasa Bani Ummayah –kecuali Umar Ibn Azia yang hanya tertarik pada kekuasaan.
Wujud oposisi keagamaan terhadap rezim Damaskus itu yang paling terkenal adalah dilakukan oleh toko saleh, Hasan al-Basri dari Basrah. Gerakan oposisi terhadap rezimawi, sebagian karena dorongan politik.
Oposisi kaum sufi yang terorganisir dalam tarekat mencapai puncaknya ketika bangsa-bangsa Eropa menjajah bangsa-bangsa Islam, terutama bangsa Indonesia terhadap kolonialisme Belanda yang melibatkan Tokoh-tokoh dan penganut Tarekat.
Untuk kasus pemberontakan petani Banten terjadi karena sang Guru memiliki kharisma yang luar biasa. Max Webber memperkenalkn konsep kharisma sebagai otoritas karisma dengan pikiran bahwa ada suatu bentuk yang berlansung antara seorang pemimpin dankomunitas kharismatik.
Berdasarkan pengartian otoritas kharisma Webber itu wajar sebagai tipe keabsahan.
Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî , ulama besar dan orang suci di mata rakyat, adalaah yang paling menonjol diantara pemimpin-pemimpin gerakanpemberontakan petani banten.


Doktrin Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî ialah :
1.      Kedatangan Imam Mahdi
Mahdi yang secara harfiah yang berarti penunjuk jalan yang benar, adlah nama yang diberikan kepada seorang tokoh mesianik yang akan muncul menjelang hari kiamat dan menghancurkan Nabi palsu yang di sebut al-Dajjal.
Paham mahdisme adalah ajaran yang meyakini akan datangya seorang tokoh juru selamat pada umat tertindas akibat merajalelanya kezaliman, tokoh tersebtu oleh sebagian orang jaw adisebut Ratu adil.
Kedatangan mahdi didahului oleh suatu periode kekacauan besar, ketiadaan imam dam peperangan, pada suatu sat nantinya, mahdi akan muncul untuk memulihkan tradisi dan agama sejati, dia akan memperbarui islam, menegakan kembali keagunganya, dan memusnahkan orang kafir.
2.      Pesan terakhir Nabi Muhammad SAW
Dalam sejarah islam yang dinamakan Pesan terakhir Nabi Muhammad SAW ilah Khotbah terakhir beliau tatkala haji wada pada 9 zulhijah 10 hijriah, yang kemudian membakar para pemimpi tarekat untuk melakukan pemberontakan kepada kolonialisme Belanda.
3.      Mendirikan negara islam (Dar al-Isam)
Kepada murid-muridnya yang paling dekat Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî memberitahukan bahwa dai tidak bermaksud kembali ke banten, selama daerah itu masih terbelenggu jajahan asing, hanya diatas bumi yang murni ia akan menginjakan kaki.
4.      Jihad fi sabilillah
Tujuan terakhir yang hendak dicapai Syekh ´Abd-Karîm al-Bantanî adalah mendirikan negara islam, yang dimana para pengikutnya memiliki kesadaran nusantara harus di buat negara islam dengan mengusir para penjajah dari bumi pertiwi, dan dengan waktu yang memungkinkan negeri mereka akan diubah dengan menggunakan kekuatan dan menjadi wilayah islam.