BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kedatangan inggris ke
Indonesia diprakarsai oleh Francis Drake dan Thomas Chavendish. Dengan
mengikuti jalur yang di lalui Magellan, pada tahun 1579 Francis Drake berlayar
ke Indonesia. Armadanya sukses membawaa rempah-remapah dari Ternate dan kembali
ke inggris melalui samudera Hindia.
Bukti sejarah inggris di sumatera ialah Benteng
Marlborough merupakan peninggalan sejarah kolonial Inggris terbesar di kawasan
asia. Benteng Marlborough berdiri dengan megahnya dan menghadap ke arah
selatan, meliputi area 31,5 Ha. Salah satu daya tarik benteng ini mempunyai
tipikal abad 18 yang berbentuk kura-kura.
Tahun 1824, Inggris
mengklaim Sumatera bagian utara merupakan wilayah kekuasaan Inggris. Pada tahun
1834 melalui Traktat London, Sumatera bagian utara ditukar
oleh Belanda dengan Kalimantan Utara (Sarawak dan Sabah). Kebijakan Raffles
tentang suku Kristen (Batak) kemudian diteruskan oleh pemerintah Hindia-Belanda di
bawah pimpinan Cornelis Elout.
B.
Rumusan Masalah
1. Sejarah kedatangan bangsa
inggris ke Indonesia
2. Masa kolonialisme dan
imperialisme di Sumatera
·
Reaksi Pemberontakan masyarakat di Bengkulu
·
Peninggalan Inggris di Bengkulu
·
Inggris mengklaim Bengkulu
C. Tujuan Penulisan
Mengetahui sejarah kedangan bangsa Inggris di
Indonesia terutama di daerah Sumatera, mengetahui masa kolonialisme dan
imperialisme di Sumatera, dengan adanya pemberontakan masyarakat, peninggalan
bangsa inggris di Sumatera.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Sejarah kedatangan bangsa inggris
ke Indonesia
Sejarah kedatangan
inggris ke Indonesia berbeda dengan kedangan Portugis dan spanyol, ekspedisi
Inggris untuk menguasai perdagangan Asia bukan disponsori oleh pemerintah,
melaikan oleh persekutuan dagang. Nama persekutuan dagang tersebut ialah East
Indian Company (EIC). Persekutuan dagang ini merupakan gabunagan para pengusaha
London.
Kedatangan inggris ke
Indonesia diprakarsai oleh Francis Drake dan Thomas Chavendish. Dengan
mengikuti jalur yang di lalui Magellan, pada tahun 1579 Francis Drake berlayar
ke Indonesia. Armadanya sukses membawaa rempah-remapah dari Ternate dan kembali
ke inggris melalui samudera Hindia. Perjalanan berikutnya dilakukan pada 1586
oleh Thomas Chavendish meleati jalur yang sama.
Seejaak tahun 1600. EIC
memperoleh hak khusus dari pemerintah inggris untuk menangani perdagangan di
Asia. Dengan hak khusus tersebut, EIC memiliki wewenang penuh atas monopoli
perdangan Asia dan dapat menggariskan kebijakanya sendiri dalam hala\
memonopoli perdagangan.
Kemudian pada akhir
abad ke-16, EIC mengadakan hubungan dengan beberapa tempat di Indonesia,
seperti Aceh, Bengkulu, Jayakarta, Banjar, Gowa, dan Maluku, namun karena
terdesak oleh Belanda Inggris pun tersingkir dari kawasan Indonesia.
B. Masa kolonialisme dan imperialism inggris
di sumatera.
Kata kolonialisme berasal dari bahasa latin yaitu
colonia yang artinya tanah, tanah pemukiman atau jajahan. Jadi kolonialisme
adalah suatu sistem pemukiman warga suatu Negara di wilayah induknya atau
penguasaan oleh suatu Negara atas daerah atau Negara lain dengan magsud untuk
memperluas daerahnya atau negaranya yang biasa terletak di seberang
lautan dengan tujuan utamanyamerusak sumber-sumber kekayaan daerah kolonia demi
Negara induknya
Kata imperialisme berasal dari bahasa latin
yaitu dari kata imperare yang berarti memerintah atau sebagai
kerajaan besar yang bertujuan penjajahan langsung atau
menguasai Negara lain untuk mendapat kekuasaan , wilayah dan
kekayaan yang lebih besar dengan jalan menguasai semua bidang
kehidupan seperti kehidupan politik,ekonomi,social dan idiologi
1. Bangsa inggris menjajah Bengkulu

Benteng Marlborough merupakan peninggalan sejarah kolonial Inggris terbesar
di kawasan asia. Benteng Marlborough berdiri dengan megahnya dan menghadap ke
arah selatan, meliputi area 31,5 Ha. Salah satu daya tarik benteng ini
mempunyai tipikal abad 18 yang berbentuk kura-kura. Lokasi benteng
dipusat kota berbatasan dengan Perkampungan China, yang juga
kawasan obyek wisata. Benteng ini dibangun tahun 1714 – 1719 di bawah pimpinan
Gubernur Joseph Collet. Di salah satu kamar benteng ini pernah dihuni Presiden RI pertama
Ir. Soekarno ketika menjalani hukuman buangan masa penjajahan Belanda. Setelah
kemerdekaan Benteng Marlborough dipugar oleh pemerintah dan menjadi salah
satu obyek wisata Kota Bengkulu.

Bengkulu adalah salah satu provinsi di pulau Sumatera tepatnya di Sumatera
bagian selatan. Di masa lalu daerah ini pernah menjadi ajang persaingan dagang
antara Inggris dan Belanda. Mereka berusaha untuk menguasai komoditi (lada)
yang ada di sana. Tahun 1664 Belanda dengan VOC-nya mendirikan kantor
pelelangan di sana. Tahun 1670 Sultan Banten mengeluarkan peraturan
transaksi lada yang baru. Peraturan itu membuat pihak Belanda mengalami
kerugian. Untuk itu, pada tahun yang (1670) Belanda meninggalkan Bengkulu.
Mereka pergi ke Banten dengan tujuan menguasainya. Di sana Belanda
berhasil membuat Sultan Banten menandatangani perjanjian tentang hak monopoli
perdagangan oleh Belanda. Perjanjian itulah yang kemudian membuat perhatian
Belanda hanya tertuju pada Banten. Dan, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh
Inggris, melalui EIC-nya, untuk masuk ke Bengkulu
Setelah lebih kurang 140 tahun Pemerintah Inggris berada di Bengkulu,
mereka banyak meninggalkan "warisan" peninggalan bersejarah. Salah
satunya adalah Benteng Marlborough.Nama benteng ini menggunakan nama seorang
bangsawan dan pahlawan Inggris, yaitu John Churchil, Duke of Marlborough I.
Benteng ini tergolong terbesar di kawasan Asia. Peninggalan sejarah ini
memiliki daya tarik yang besar karena kelangkaannya. Benteng ini dulunya
merupakan pusat pemerintahan kolonial Inggris yang menguasai Propinsi Bengkulu
selama lebih kurang 140 tahun (1685�1825)
Konstruksi bangunan benteng Fort Marlborough ini memang sangat kental
dengan corak arsitektur Inggris Abad ke-20 yang ‘megah’ dan ‘mapan’. Bentuk
keseluruhan komplek bangunan benteng yang menyerupai penampang tubuh
‘kura-kura’ sangat mengesankan kekuatan dan kemegahan. Detail-detail bangunan
yang European Taste menanamkan kesan keberadaan bangsa yang besar dan berjaya
pada masa itu. Dari berbagai peninggalan yang masih terdapat di dalam bangunan
benteng dapat pula diketahui bahwa pada masanya bangunan ini juga berfungsi
sebagai pusat berbagai kegiatan termasuk perkantoran, bahkan penjara.
2. Masa reaksi
pemberontakan masyarakat Bengkulu
a.
Peristiwa Attact Fort Marlborough
(1719).
Jauh sebelum peristiwa penyerbuan rakyat Bengkulu ke
Fort Marlborough pada tanggal 23 Maret 1719, ketegangan sosial telah terjadi
antara para penguasa pribumi Bengkulu, khususnya rakyat Selebar. Ketegangan
hubungan antara pihak Inggris dengan Pangeran Ingallo (Jenggalu?) – alias
Pangeran Nata Diradja penguasa dari Selebar, berawal dari hubungan kontrak –
perjanjian dagang. Pihak Inggris tidak senang bahkan merasa dirugikan karena
Pangeran Selebar masih menjalin hubungan dagang dengan pihak Belanda. Disinyalir,
rakyat Selebar serta anak keturunannya Pangeran Nata Diradja menaruh dendam
atas kematian Pangeran Selebar yang diduga dibunuh oleh Inggris di Fort York
pada tanggal 4 Nopember 1710.
Puncaknya ketegangannya, pada malam hari tanggal 23
Maret 1719, Fort Marlborough diserbu sekitar 80 orang yang sebagian besar
diperkirakan dari suku Lembak dan Selebar – yang mengakibatkan orang-orang
Inggris melarikan diri ke Batavia dan Madras. Tokoh yang diduga kuat sebagai
pemimpin penyerbuan Fort Marlborough itu antara lain : Pangeran Mangkuradja
dari Sungai Lemau, Pangeran Intan Ali dari Selebar, Pangeran Sungai Itam, dan
juga Syed Ibrahim (Siddy Ibrahim ) yang disebutkan sebagai seorang ulama besar
yang punya pengaruh pada masyarakat di pegunungan.[6]
b.
Peristiwa Mount Felix (1807).
Mount Felix adalah sebuah nama yang diberikan oleh
orang Inggris untuk menyebut sebuah kawasan perbukitan yang terletak di sebelah
utara, sekitar 25 Km dari pusat kota Bengkulu. Sementara masyarakat pribumi
menyebutnya sebagai Bukit Palik.
Ketegangan sosial yang terjadi selama masa
pemerintahan Walter Ewer (1800-1805) tampaknya terus berkelanjutan hingga masa
penggantinya, yaitu Thomas Parr. Residen Inggris ini hanya memerintah di
Bengkulu selama dua tahun, yaitu dari tahun 1805-1807, yang berakhir dengan
membawa kematiannya secara tragis.
intervensi Thomas Parr terhadap kehidupan
tradisional para kepala adat, terutama dalam hal peradilan pribumi, sering
dilakukan tanpa meminta persetujuan dari para kepala adat.[8] Dengan
demikian, tampak semakin kompleks ketegangan-ketegangan sosial selama masa
pemerintahan Thomas Parr.
Puncak dari segala ketegangan sosial itu pada
akhirnya meletus pada tanggal 27 Desember 1807. Thomas Parr dibunuh pada
tanggal 27 Desember 1807 di kedimanannya di Mount Felix, yang berlokasi sekitar
3 Mil sepanjang garis pantai dari Fort Marlborough.
Menurut sebuah sumber, Thomas Parr dimakamkam di
daerah tertutup di Fort Marlborough, dengan pertimbangan, untuk menghindari
perasaan penduduk lokal, dan juga dikawatirkan akan digali dan dinajiskan
(dikutuk) oleh penduduk lokal. Demikian juga dengan makam Charles Murray,
sekretarisnya yang telah berusaha menyelamatkan Mr. Parr, dan
meninggal pada tanggal 7 Januari 1808.
Bagi pemerintah kolonial Inggris, bagaimana pun
juga Thomas Parr tetap dianggap sebagai pahlawan karena jasa dan
pengabdiannya. Oleh karena itu, pemerintah Inggris kemudian mendirikan sebuah
monumen untuk mengenangnya. Monumen tersebut dibangun diatas tanah yang
berlokasi tidak jauh dari pusat ibukota Bengkulu (sekitar 150 kaki)
dari Fort Marlborough. Monumen yang didirikan tanggal 7 Januari 1808
itu, terdapat prasasti (memori) yang berkaitan dengan peristiwa Mount Felix.
Orang-orang Inggris menyebut dengan nama Parr Monument, sedangkan kelompok
elite pribumi Bengkulu menyebutnya sebagai Taman Raffles (Raffles Park).
Penduduk pribumi Bengkulu itu sendiri lebih akrab menyebutnya sebagaikuburan
bulek.
3.
Peniggalan
Inggris di Bengkulu
a.
Benteng Marlborough ( Fort Marlborough )
Fort
Marlborough
Pembangunan benteng Marlborough dilakukan tahun 1714
sampai dengan tahun 1719 pada masa pemerintahan Gubernur
Jenderal ( Inggris ) yang dijabat oleh Joseph Collet. Benteng
Marlborough ini berdiri kokoh di tepian Samudra Hindia di atas bukit dengan
ketinggian sekitar 8,5 meter di atas permukaan laut. Benteng ini mengahadap ke
selatan dan memiliki luas sekitar 44.100 meter persegi. Lokasi benteng yang
dikelilingi parit buatan ini seolah memunggungi Samudra Hindia. Dari atas sudut
benteng inilah kita bisa menikmati pemandangan berupa hamparan laut lepas di
sepanjang pantai Tapak Padri yang terhubung dengan deretan Pantai Panjang
Bengkulu.
Benteng
Marlborough merupakan benteng batu-bata. Dinding benteng cukup tebal, yakni
sekitar 1,25 meter dengan material batu bata serta batu kali yang sangat kokoh.
Fungsi utama dari benteng ini dibangun untuk pertahanan dari serangan musuh
kala itu. Pintu benteng terbuat dari besi tebal yang dilengkapi jeruji besi.
Jika diamati dari atas, benteng ini berdenah mirip kura-kura. Bagian badan
kura-kura sebagai benteng, sedangkan bagian kepala kura-kura merupakan pintu
masuk ke benteng.
b.
Benteng Anna ( Fort Anna )
Informasi tentang Benteng Anna
Benteng Anna didirikan pada tahun 1798 dipinggiran
selatan sungai Selagan dan dekat dengan pantai Muko-Muko di Bengkulu Utara.
Lokasi benteng ini terletak lebih kurang 276 km dari kota Bengkulu atau dengan
perjalanan darat dengan kendaraan sekitar 6 jam. Menurut tulisan TC. Bagaardt
pada tanggal 31 Maret 1840, benteng ini diberi nama Fort Anna, dimana Anna
merupakan nama dari Keningin Anna Van England.
Lukisan Prajurit EIC di Fort Anna
Tidak banyak yang diketahui tentang Benteng Anna
ini, karena hingga saat ini tidak diketahui bagaimana bentuknya (gambar denah
dan konstruksi) secara pasti karena tinggal berupa puing-puing benteng dan
meriam kuno saja.
c.
Benteng York ( Fort York )
Inggris mendirikan bangunan pertahanan/benteng yang
diberi nama Fort York pada tahun 1865 yang didirikan di antara laut dan sungai
Serut ( Muara Sungai Bengkulu ). Bangunan ini murni berfungsi sebagai tempat
pertahanan utama Inggris ( EIC ) dalam mempertahankan daerah penghasil
rempah-rempahnya dari serangan Belanda dan Perancis.
Pada masa selanjutnya karena Fort York ini didirikan
di dekat sungai dan rawa mangrove yang tidak sehat dan menyebabkan wabah
malaria, maka Fort York ini dipindahkan ke daerah tepi pantai barat yang
strategis yang kemudian terkenal sebagai Fort Marlborough.
4.
Inggris Mengklaim Utara Sumatera
Sultan Bagindo Martio Lelo bersama Jhon Abraham
Moschel (Residen Nias) selaku pemegang kuasa dan bertindak atas nama Serikat
Dagang Hindia Timur, melakukan perjanjian. Kalimat perjanjian tertanggal 7
Maret 1760 itu menyebutkan, Sutan Martia Lelo bersumpah berdasarkan Al Qur'an
menyerahkan benteng Natal kepada Moschel.
Tahun 1785 – 1824, Inggris mendirikan
pusat perdagangan di Tapian Nauli (Sibolga). Tahun 1821 – 1833, panglima
Paderi Tuanku Lelo dijadikan calon sultan di Angkola oleh Inggris. Tahun 1823,
Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles membuat
kebijakan untuk membentuk suku Kristen, yang berada di antara Kesultanan
Aceh dan Kerajaan Islam Minangkabau, yaitu di pedalamanBarus yang kala itu menjadi bawahan
Kesultanan Aceh. Dalam Bahasa
Belanda, kebijakan itu berbunyi, "Een wig te drijen tusschen
het mohamedaansche Atjeh en het eveneens mohammadansche Sumatra's West Kust.
Een wig in de vorm van de Bataklanden (Aceh yang Islam serta Minangkabau
(Pantai Barat Sumatera) yang Islam, dipisah dengan blok Batak (Barus Tanah
Kristen)."
Perintah ini meniru perintah Gubernur Jenderal
Inggris di Calcutta,
yang membentuk blok Karen yang Kristen, diantara Burma dan Siam yang beragama
Buddha. Pelaksanaannya, tiga orang pendeta British Baptist Mission, yaitu
Burton, Ward, dan Evans datang ke Kota Tapian Nauli, tempat Raffless beribu
kota saat itu.
Tahun 1824, Inggris mengklaim Sumatera bagian utara
merupakan wilayah kekuasaan Inggris. Pada tahun 1834 melalui Traktat
London, Sumatera bagian utara ditukar oleh Belanda dengan Kalimantan
Utara (Sarawak dan Sabah). Kebijakan Raffles
tentang suku Kristen (Batak) kemudian diteruskan oleh pemerintah Hindia-Belanda di
bawah pimpinan Cornelis Elout.
Demikianlah masa penjajahan inggris disumatera yang
bias saya paparkan dalam bentuk makalah ini.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sejarah
kedatangan inggris ke Indonesia berbeda dengan kedangan Portugis dan spanyol,
ekspedisi Inggris untuk menguasai perdagangan Asia bukan disponsori oleh
pemerintah, melaikan oleh persekutuan dagang
Bengkulu adalah salah satu
provinsi di pulau Sumatera tepatnya di Sumatera bagian selatan. Di masa lalu daerah
ini pernah menjadi ajang persaingan dagang antara Inggris dan Belanda. Mereka
berusaha untuk menguasai komoditi (lada).
Puncak dari kesemena-menaan
inggris itu dihadiahi pemberontakan-pemberontakan seperti Peristiwa Attact Fort Marlborough
(1719). Dan Peristiwa
Mount Felix (1807).
Tak hanya di
Bengkulu namun Inggris pun menjajah Sumatera Utara Tahun 1785 – 1824, Inggris mendirikan
pusat perdagangan di Tapian Nauli (Sibolga). Tahun 1821 – 1833, panglima
Paderi Tuanku Lelo dijadikan calon sultan di Angkola oleh Inggris.
DAFTAR PUSTAKA
Adam.
Michael, Ratu Adil Tokoh dan Gerakan Milenarian Menentang Kolonialisme
Eropa. Terjemahan: M. Tohir Effendi. (Jakarta: Rajawali Pers, 1988);
Burhan.
Firdaus, Bengkulu Dalam Sejarah. (Jakarta: Yayasan Pengembangan
Seni Budaya Nasional Indonesia, 1980)
Kartodirdjo.
Sartono, Pemberontakan Petani Banten 1888. (Jakarta: Pustaka Jaya,
1984),
Kartodirdjo.
Sartono, (ed.), Sejarah Nasional Indonesia IV. (Jakarta: Balai
Pustaka, 1975)
Kathirithamby-Wells, The
British West Sumatran Presidency (1760-85), Kuala Lumpur: Universiti
Malaya, 1977:
Scott.
James C, Moral Ekonomi Petani Pergolakan dan Subsistensi di Asia
Tenggara. Terjemahan: Hasan basari. (Jakarta: LP3ES, 19899).
Siddik.
Abdullah, Sejarah Bengkulu 1500
– 1900 (Jakarta: Balai Pustaka, 1996),



