BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Belajar bukan hanya menghafal dan bukan pula
mengingat, tetapi belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya
perubahan pada diri siswa. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat
ditunjukan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pengetahuanya, sikap dan
tingkah laku ketrampilan, kecakapanya, kemampuannya, daya reaksinya dan daya
penerimaanya. Jadi belajar
adalah suatu proses yang aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada
pada siswa. Belajar merupakan suatu proses yang diarahkan pada suatu tujuan,
proses berbuat melalui situasi yang ada pada siswa.
Dalam suatu pembelajaran
juga perlu didukung oleh adanya suatu teori dan belajar, secara umum teori
belajar di kelompokan dalam empat kelompok atau aliran meliputi: (1) Teori
Belajar Behavioristik (2) Teori Belajar Kognitif (3) Teori Belajar Humanistik
(4) Teori Belajar Sibernik.
Untuk memahami lebih
lanjut maka dalam makalah ini akan membahas mengenai Teori Belajar Humanistik yang diantaranya Teori meaning full learning,
Teori Belajar Berbasis Multiply Intlegences, dan teori kebutuhan Maslow.
Dan yang terakhir teori belajar behavioristik yang didalamnya terdapat teori
belajar sosial Bandura dan Vygotsky.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa Pengertian Teori Belajar Humanistik?
2.
Siapa sajakah tokoh Teori Belajar Humanistik?
3.
Apa Saja Prinsip Dalam Teori Belajar
Humanistik?
4.
Bagaimana Aplikasi Teori Belajar Humanistik?
5.
Apa Implikasi Teori Belajar Humanistik?
6.
Siapa sajakah tokoh teori
belajar sosial dan apakah implikasinya ?
7.
Apa sajakah prinsip dalam
teori belajar sosial ?
C. Tujuan Penulisan
1. Agar mahasiswa atau pembaca mengetahui Teori Belajar Humanistik, tokoh Teori
Belajar Humanistik, Prinsip Dalam
Teori Belajar Humanistik, Aplikasi dan implikasi Teori Belajar Humanistik.
2.
Agar mahasiswa atau pembaca mengetahui tokoh teori belajar sosial dan apakah implikasinya, prinsip dalam teori
belajar sosial.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Belajar Menurut Teori Humanistik
Menurut teori humanistik proses belajar harus dimulai dan
ditunjukkan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu
teori belajar humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang
kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi, dari pada bidang kajian
psikologi belajar.[1]
Dengan kata lain teori ini lebih tertarik pada pengertian
belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada pemahaman tentang proses
belajar sebagaimana apa adanya, seperti yang selama ini dikaji oleh teori-teori
belajar lainnya.
Dalam pelaksanaannya teori humanistik ini antara lain
tampak juga dalam pendekatan belajar yang dikemukakan oleh :
1. Meaning full learning (Ausubel, carl roger)
Pandangan tentang belajar bermakna atau meaning
full learning Yang juga tergolong dalam aliran kognitif ini, mengatakan
bahwa belajar merupakan asimilasi bermakna, materi yang dipelajari sebelumnya.
Faktor motivasi dan pengalaman yang telah dimiliki dalam peristiwa belajar.
Sebab tanpa motivasi dan keinginan dari pihak
si belajar, maka tidak akan terjadi asimilasi pengetahuan baru kedalam
struktur kognitif yang telah dimilikinya.[2]
Seorang psikolog humanisme
yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa
prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah masalahkehidupannya.
Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran
adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran. Ada beberapa Asumsi dasar teori Rogers
adalah: Kecenderungan formatif; Segala hal di dunia baik organik maupun
non-organik tersusun dari hal-hal yang lebih kecil; Kecenderungan aktualisasi;
Kecenderungan setiap makhluk hidup untuk bergerak menuju ke kesempurnaan atau
pemenuhan potensial dirinya. Tiap individual
mempunyai kekuatan yang kreatif untuk menyelesaikan masalahnya.
Menurut
Roger, peranan guru dalam kegiatan belajar siswa menurut pandangan teori
humanisme adalah sebagai fasilitator yang berperan aktif dalam :
a. membantu
menciptakan iklim kelas yang kondusif agar siswa bersikap positif terhadap
belajar.
b. membantu siswa
untuk memperjelas tujuan belajarnya dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk
belaja.
c. membantu siswa
untuk memanfaatkan dorongan dan cita-cita mereka sebagai kekuatan pendorong
belajar.
d. menyediakan
berbagai sumber belajar kepada siswa.
e. menerima
pertanyaan dan pendapat, serta perasaan dari berbagai siswa sebagaimana adanya.
2. Teori Belajar Berbasis Multiply Intlegences ( Gardner)
Teori
Multiple Intelligences
bertujuan untuk mentransformasikan sekolah agar kelak sekolah dapat
mengakomodasi setiap siswa dengan berbagai macam pola pikirnya yang unik.
Howard Gardner (1993) menegaskan bahwa skala kecerdasan yang selama ini
dipakai, ternyata memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang dapat meramalkan
kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang.[3]
Menurut
Gardner,
kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur kecerdasan Secara rinci masing-masing
kecerdasaan tersebut dijelaskan sebagai berikut :
a.
Kecerdasan matematika-logika
matematika-logika menunjukkan kemampuan seseorang
dalam berpikir secara induktif dan deduktif, berpikir menurut aturan logika,
memahami dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah dengan
menggunakan kemampuan berpikir. Peserta didik dengan kecerdasan
matematika-logika tinggi cenderung menyenangi kegiatan menganalisis dan
mempelajari sebab akibat terjadinya sesuatu.
Ia menyenangi berpikir secara konseptual, misalnya
menyusun hipotesis dan mengadakan kategorisasi dan klasifikasi terhadap apa yang
dihadapinya. Peserta didik semacam ini cenderung menyukai aktivitas berhitung
dan memiliki kecepatan tinggi dalam menyelesaikan problem matematika. Apabila
kurang memahami, mereka akan cenderung berusaha untuk bertanya dan mencari
jawaban atas hal yang kurang dipahaminya tersebut.Peserta didik ini juga sangat
menyukai berbagai permainan yang banyak melibatkan kegiatan berpikir aktif,
seperti catur dan bermain teka-teki.
b.
Kecerdasan bahasa
Kecerdasan
bahasa menunjukkan kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata,
baik secara tertulis maupun lisan, dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk
mengekspresikan gagasan-gagasannya. Peserta didik dengan kecerdasan bahasa yang
tinggi umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan
penggunaan suatu bahasa seperti membaca, menulis karangan, membuat puisi,
menyusun kata-kata mutiara, dan sebagainya.Peserta didik seperti ini juga
cenderung memiliki daya ingat yang kuat, misalnya terhadap nama-nama orang,
istilah-istilah baru, maupun hal-hal yang sifatnya detail. Mereka cenderung
lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan dan verbalisasi. Dalam hal
penguasaan suatu bahasa baru, peserta didik ini umumnya memiliki kemampuan yang
lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik lainnya.
c.
kecerdasan musikal
Kecerdasan
musikal menunjukkan kemampuan
seseorang untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada di
sekelilingnya, termasuk dalam hal ini adalah nada dan irama. Peserta didik
jenis ini cenderung senang sekali mendengarkan nada dan irama yang indah, entah
melalui senandung yang dilagukannya sendiri, mendengarkan tape recorder,
radio, pertunjukan orkestra, atau alat musik dimainkannya sendiri. Mereka juga
lebih mudah mengingat sesuatu dan mengekspresikan gagasan-gagasan apabila dikaitkan
dengan musik.
d.
Kecerdasan visual-spasial
Kecerdasan
visual-spasial menunjukkan kemampuan seseorang untuk memahami secara lebih
mendalam hubungan antara objek dan ruang. Peserta didik ini memiliki kemampuan,
misalnya, untuk menciptakan imajinasi bentuk dalam pikirannya atau kemampuan
untuk menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi seperti dijumpai pada orang dewasa
yang menjadi pemahat patung atau arsitek suatu bangunan.
Kemampuan
membayangkan suatu bentuk nyata dan kemudian memecahkan berbagai masalah
sehubungan dengan kemampuan ini adalah hal yang menonjol pada jenis kecerdasan
visual-spasial ini. Peserta didik demikian akan unggul, misalnya dalam
permainan mencari jejak pada suatu kegiatan di kepramukaan.
e.
Kecerdasan kinestetik
Kecerdasan
kinestetik menunjukkan kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan
bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai
masalah. Hal ini dapat dijumpai pada peserta didik yang unggul pada salah satu
cabang olahraga, seperti bulu tangkis, sepakbola, tenis, renang, dan
sebagainya, atau bisa pula dijumpai pada peserta didik yang pandai menari,
terampil bermain akrobat, atau unggul dalam bermain sulap.
f.
Kecerdasan interpersonal
Kecerdasan
interpersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan
orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain
sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan di sekelilingnya. Kecerdasan
semacam ini juga sering disebut sebagai kecerdasan sosial, yang selain
kemampuan menjalin persahabatan yang akrab dengan teman, juga mencakup
kemampuan seperti memimpin, mengorganisir, menangani perselisihan antar teman,
memperoleh simpati dari peserta didik yang lain, dan sebagainya.
g.
Kecerdasan intrapersonal
Kecerdasan
intrapersonal menunjukkan
kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Ia cenderung
mampu untuk mengenali berbagai kekuatan maupun kelemahan yang ada pada dirinya
sendiri. Peserta didik semacam ini senang melakukan instropeksi diri,
mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya, kemudian mencoba untuk memperbaiki
diri. Beberapa diantaranya cenderung menyukai kesunyian dan kesendirian,
merenung, dan berdialog dengan dirinya sendiri.
h.
Kecerdasan naturalis
Kecerdasan
naturalis menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam,
misalnya senang berada di lingkungan alam yang terbuka seperti pantai, gunung,
cagar alam, atau hutan. Peserta didik dengan kecerdasan seperti ini cenderung
suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, jenis-jenis
lapisan tanah, aneka macam flora dan fauna, benda-benda angkasa, dan
sebagainya. Melalui konsepnya mengenai multiple intelligences atau
kecerdasan ganda ini Gardner mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang
konvensional mengenai kecerdasan dari tunggal menjadi jamak.
Kecerdasan
tidak terbatas pada kecerdasan intelektual yang diukur dengan menggunakan
beberapa tes inteligensi yang sempit saja, atau sekadar melihat prestasi yang
ditampilkan seorang peserta didik melalui ulangan maupun ujian di sekolah
belaka, tetapi kecerdasan juga menggambarkan kemampuan peserta didik pada
bidang seni, spasial, olah-raga, berkomunikasi, dan cinta akan lingkungan.
3.
Teori
Belajar Kebutuhan (Maslow)
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua
hal : suatu usaha yang positif untuk berkembang; kekuatan untuk melawan atau
menolak perkembangan itu. (internet)
Maslow mengemukakan bahwa individu
berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada
diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut
untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut
membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain
seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan
diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi
dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri.
Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki.
Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan
fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya,
ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia
menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan
oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan
motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum
terpenuhi.
4. Teori Belajar Metakognisi (John Flavell, Baker dan Brown)
Istilah metakognisi yang dalam bahasa Inggris
dinyatakan dengan metacognition
berasal dari dua kata yang dirangkai yaitu meta
dan kognisi (cognition).
Istilah meta berasal ari bahasa Yunani μετά yang dalam
bahasa Inggris diterjemahkan dengan after,
beyond, with, adjacent), adalah
suatu prefik yang dugunakan dalam bahasa Inggris untuk menjukkan pada suatu
abstraksi dari suatu konsep.[4]
Istilah
metakognisi yang diperkenalkan Flavell (Yong & Kiong, 2006), mendefinisikan
aspek pertama dari metakognisi sebagai pengetahuan seseorang terhadap proses
hasil kognitifnya atau segala sesuatu yang berhubungan dengannya, kemudian
aspek kedua dari metakognisi didefinisikan sebagai pemonitoran dan
pengaturan diri terhadap aktivitas kognitif sendiri.[5]
Schoenfeld (1992) mendefinisikan metakognisi sebagai
pemikiran tentang pemikiran sendiri yang merupakan interaksi antara tiga aspek
penting yaitu: pengetahuan tentang proses berpikir sendiri, pengontrolan
atau pengaturan diri, serta keyakinan dan intuisi. Interaksi ini sangat penting
karena pengetahuan kita tentang proses kognisi kita dapat membantu kita
mengatur hal-hal di sekitar kita dan menyeleksi strategi-strategi untuk
meningkatkan kemampuan kognitif kita selanjutnya.[6]
Secara sederhana metakognisi didefinsikan sebagai
“memikirkan kembali apa yang telah dipikirkan”,
a. Komponen-komponen metakognisi ada dua menurut
Plavell.
Pertama Pengetahuan tentang kognisi adalah pengetahuan
tentang hal-hal yang berhubungan dengan kognisinya, yang mencakup tiga sub
komponen. Komponen pertama, declarative knowledge, yaitu pengetahuan
tentang diri sendiri sebagai pembelajar serta strategi, keterampilan, dan
sumber-sumber belajar yang dibutuhkannya untuk keperluan belajar. Komponen kedua, procedural knowledge, yaitu pengetahuan tentang bagaimana
menggunakan apa saja yang telah
diketahui dalam declarative knowledge
tersebut dalam aktivitas belajarnya. Komponen ketiga, conditional knowledge, adalah pengetahuan tentang bilamana
menggunakan suatu prosedur, keterampilan, atau strategi dan bilamana hal-hal
tersebut tidak digunakan, mengapa suatu prosedur berlangsung dan dalam kondisi
yang bagaimana berlangsungnya, dan mengapa suatu prosedur lebih baik dari pada
prosedur-prosedur yang lain.[7]
Yang kedua Regulasi kognisi terdari dari sub komponen-sub
komponen sebagai berikut. Pertama, planning, adalah kemampuan merencanakan
aktivitas belajarnya. Kedua, information
management strategies, adalah kemampuan strategi mengelola informasi
berkenaan dengan proses belajar yang dilakukan. Ketiga, comprehension monitoring, merupakan kemampuan dalam memonitor
proses belajarnya dan hal-hal yang berhubungan dengan proses tersebut. Keempat,
debugging strategies, adalah
kemampuan strategi-strategi debugging yaitu
strategi yang digunakan untuk membetulkan tindakan-tindakan yang salah dalam
belajar. Kelima, evaluation, adalah kemampuan mengevaluasi efektivits strategi
belajarnya, apakah ia akan mengubah strateginya, menyerah pada keadaan, atau
mengakhiri kegiatan tersebut.[8]
b. Peranan Metakognisi terhadap Keberhasilan Belajar
Sebagaimana dikemukakan pada uraian sebelumnya bahwa
metakognisi pada dasarnya adalah kemampuan belajar bagaimana seharusnya belajar
dilakukan yang didalamnya dipertimbangkan dan dilakukan aktivitas-aktivitas
sebagai berikut (Taccasu Project, 2008).
1) Mengembangkan suatu rencana kegiatan belajar.
2) Mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya
berkenaan dengan kegiatan belajar.
3) Menyusun suatu program belajar untuk konsep,
keterampilan, dan ide-ide yang baru.
4) Mengidentifkasi dan menggunakan pengalamannya
sehari-hari sebagai sumber belajar.
5) Memanfaatkan teknologi modern sebagai sumber
belajar.
6) Memimpin dan berperan serta dalam diskusi dan
pemecahan masalah kelompok.
7) Belajar dari dan mengambil manfaat pengalaman
orang-orang tertentu yang telah berhasil dalam bidang tertentu.
8) Belajar
dari dan mengambil manfaatkan pengalaman
orang-orang tertentu yang telah berhasil dalam bidang tertentu.
9) Memahami faktor-faktor pendukung keberhasilan
belajarnya.
Berdasarkan apa yang
dipaparkan di atas dapat dinyatakan bahwa keberhasilan seseorang dalam belajar
dipengaruhi oleh kemampuan metakognisinya. Jika setiap kegiatan belajar
dilakukan dengan mengacu pada indikator dari learning how to learn sebagaimana disebutkan di atas maka hasil
optimal niscaya akan mudah dicapai.[9]
B. Teori Belajar Sosial
1. Teori Belajar Sosial ( Albert Bandura )
Teori Belajar Sosial menurut Bandura adalah
orang belajar dari yang lain, melalui observasi, peniruan, dan pemodelan. Teori ini sering disebut jembatan antara behavioris dan teori
pembelajaran kognitif karena meliputi perhatian, memori, dan motivasi. (internet)
Teori belajar sosial menjelaskan perilaku manusia dalam hal
interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku, dan
pengaruh lingkungan. Orang belajar melalui pengamatan perilaku orang lain,
sikap, dan hasil dari perilaku tersebut. “Kebanyakan perilaku manusia
dipelajari observasional melalui pemodelan yaitu dari mengamati orang lain.
Kemudian hasilnya berfungsi sebagai panduan untuk bertindak.
Prinsip dasar
belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam
belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan
penyajian contoh perilaku (modeling).Teori ini juga masih memandang
pentingnya conditioning.Melalui pemberian reward
dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku
sosial mana yang perlu dilakukan.
Bandura sebagai seorang behavioris moderat penemu teori social learning/ observational learning, setiap proses belajar terjadi dalam urutan
tahapan peristiwa (4 unsur utama).[10] yang meliputi:
a. Atensi (Perhatian)
Jika ingin mempelajari
sesuatu harus memperhatikanya dengan seksama, berkonsentrasi, janagan banyak
hal yang mengganggu pikiran.
b. Retensi (Ingatan)
Kita harus mampu mempertahankan, mengingat apa yang telah
diperhatikan dengan seksama tadi.
c. Produksi
Kita hanya perlu duduk dan
berkhayal untuk menerjemahkan citraan atau deskripsi model kedalam prilaku
aktual. Aspek paling penting disini adalah kemampuan kita berimprovisasi ketika
kita membayangkan diri kita sebagai model.
d. Motivasi
Adanya dorongan atau
alasan-alasan tertentu untuk berbuat meniru model. Ada tiga hal yang merupakan
motivasi, yaitu: (i) dorongan masa lalu, (ii) dorongan yang dijanjikan
(insentif) yaang dapat kita bayangkan, dan (iii) dorongan-dorongan yang kentara
(tangible), seperti melihat atau mengingat model-model yang patut
ditiru.
Tahap - tahap di atas
berawal dari adanya peristiwa stimulus atau sajian perilaku model dan berakhir
dengan penampilan atau kinerja (performance) tertentu sebagai hasil/ perolehan
belajar seorang siswa. Berikut ciri-ciri teori pemodelan bandura:
a.
Unsur pembelajaran utama
ialah pemerhatian dan peniruan.
b.
Tingkah laku model boleh
dipelajari melalui bahasa, misalan dan teladan.
c.
Pelajar meniru sesuatu
kemahiran dari pada kecakapan demontrasi guru sebagai model.
d.
Pelajar memperoleh
kemahiran jika memperoleh kepuasan dan peneguhan yang berpatutan.
e.
Proses pembelajaran
meliputi pemerhatian, peringatan, peniruan dengan tingkah laku atau gerak balas
yang sesuai, diakhiri dengan peneguhan positif.
Implikasi Teori
Pemodelan Bandura:
a.
Penyampaian guru hendaklah cakap dan menarik
agar dapat menjadi role model kepada pelajar.
b.
Demontrasi guru hendaklah jelas serta menarik
agar pelajar dapat meniru dengan cepat.
c.
Hasilan guru dapat kraftangan, lukisan atau ABM
hendaklah bermutu tinggi.
d.
Guru boleh menggunakan rekan sebaya yang
cemerlang sebagai model.
e.
Guru boleh mengajar nilai murni dan watak
bersejarah dengan teknik main peranan dan simulasi.
2. Teori Revolusi Sosio-Kultural (Lev Vygotsky)
Lev Vygotsky ia mengatakan bahwa jalan
pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial-budaya dan sejarahnya,
artinya untuk memahami pikiran seseorang bukan dengan cara menelusuri apa yang
ada dibalik otaknya dan pada kedalaman jiwanya, melainkan dari asal-usul
tindakan sadarnya, dari interaksi sosial yang dilatari oleh sejarah hidupnya.
Menurut vygotsky, perolehan pengetahuan
dan perkembangan kognitif seseorang seturut dengan teori sociogenesis. Dimensi
kesadaran sosial bersifat primer, sedangkan dimensi individualnya bersifat
deridatif atau merupakan turunan dan bersifaf sekunder.
Berdasarkan teori Vygotsky maka dalam
kegiatan pembelajaran hendaknya anak memperoleh kesempatan yang luas untuk
mengembangkan zona perkembangan proximalnya atau potensinya melalui belajar dan
berkembang. Guru perlu menyediakan berbagai jenis dan tingkatan bantuan yang
dapat memfasilitasi anak agar mereka dapat memecahkan permasalahan yang
dihadapinya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Demikian
yang dapat kami berikan kepada sahabat-sahabat mahasiswa, dapat kami berikan
sedikit kesimpulan awal, bahwa:
- Teori Belajar Humanistik adalah
suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan
manusisa serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya.
- Teory ini
di usung oleh Gardner dengan teori belajar multyply intelegences, Ausubel dan Carl
Roger dengan teori meaning full learning, teori belajar kebutuhan oleh Maslow, dan teori belajar metakognisi oleh Plavell.
- Aplikasi
dalam teori ini, Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani,
tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri
secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar
aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku. Serta guru hanya sebagai
fasilitator.
- Teori belajar
sosial adalah teori learning by doing dimana siswa belajar melalui
observasi, peniruan bahkan terjun ke lingkungan sosial dan budaya untuk
mengenali itu semua, teori ini dipelopori oleh Vygotsky dan Bandura.
DAFTAR PUSTAKA
Asri Budianingsih, C. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka
Cipta. 2012
Dimyati dan Mudjiono. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. 2006
Dimyati dan Mudjiono. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. 2006
Nur, Mohamad, Prima Retno Wikandri, dan Bambang
Sugiarto. (1999) Teori Belajar.
Surabaya: University Press Universitas Negeri Surabaya
Suyono dan Hariyanto. Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar. Bandung:
Remaja Rosdakarya. 2011
kuntjojo
(2010). “Metakognisi Dalam Keberhasilan Belajar”. http://kunt34.blogspot.com/2010/11/peranan-metakognisi-dalam-keberhasilan.html (Diakses 29-03-2013)
LenteraK
(2012). “Metakognisi dalam Pemmbelajaran”. http://lenterakecil.com/metakognisi-dalam-pembelajaran/ ((Diakses 29-03-2013)
0 komentar:
Posting Komentar
silahkan berkomentar, tapi yang sopan ya gan